Sangatta – Dyah Ratnaningrum resmi mengemban amanah baru sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Diskepang) Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim.
Dyah menjadi salah satu dari lima pejabat pimpinan tinggi pratama yang dirotasi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan berlangsung di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Jumat (28/8/2026).
Meski bergeser dari sektor pertanian ke ketahanan pangan, Dyah menilai bidang tugas barunya masih memiliki hubungan erat dengan jabatan sebelumnya. Jika selama memimpin DTPHP dirinya banyak berurusan dengan peningkatan produksi di sektor hulu, kini perhatian akan diarahkan lebih kuat pada pengelolaan hasil pertanian di sektor hilir.
Menurut Dyah, salah satu persoalan yang perlu segera ditangani adalah penyerapan hasil panen petani. Hal itu semakin penting karena Kecamatan Kaubun diperkirakan memasuki masa panen raya pada September mendatang dengan produksi sekitar 3.000 ton.
Ia menilai produksi yang tinggi harus diimbangi dengan kepastian pasar, pengelolaan gabah kering panen serta peningkatan kualitas beras. Tanpa pengelolaan sektor hilir yang baik, peningkatan produksi petani dikhawatirkan tidak memberikan manfaat ekonomi secara maksimal.
“Kalau hilirnya tidak dikerjakan, hulunya ini akan berhenti. Ini juga menjadi tanggung jawab moral saya ke petani yang kemarin disuruh tanam,” kata Dyah.
Selain penyerapan pasar, Dyah juga memberikan perhatian terhadap optimalisasi Rice Processing Unit (RPU). Fasilitas tersebut dinilai memiliki peran penting dalam membantu pengolahan hasil panen petani, terutama ketika produktivitas pertanian terus meningkat.
Produktivitas padi di Kaubun, misalnya, disebut mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya produktivitas berada pada kisaran 3,5 hingga 4 ton, kini rata-rata mencapai sekitar 6,4 ton dan bahkan terdapat hasil panen hingga 7,4 ton dalam sekali panen.
Peningkatan tersebut membuat dua Rice Milling Unit (RMU) yang selama ini beroperasi dinilai tidak lagi cukup untuk mengimbangi volume produksi. Karena itu, RPU diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam memperkuat pengolahan hasil pertanian.
Namun, Dyah menyebut pemanfaatan RPU masih membutuhkan sejumlah pembenahan, mulai dari kesiapan sumber daya manusia hingga kejelasan aspek pengelolaannya.
Perhatian serupa juga akan diberikan terhadap komoditas lainnya. Dyah mencontohkan potensi pisang di wilayah Selangkau yang dinilai perlu didukung dengan penguatan hilirisasi agar hasil produksi masyarakat tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Fasilitas pengolahan tepung pisang yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal juga akan dievaluasi. Apabila dinilai masih layak dan memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat, fasilitas tersebut akan didorong untuk kembali dioptimalkan.
Memasuki jabatan barunya, Dyah menegaskan akan melanjutkan kesinambungan pembangunan sektor pertanian dengan memperkuat sisi hilir, mulai dari pengolahan, distribusi, penyerapan hasil produksi hingga peningkatan kualitas pangan.
“Insya Allah tempat yang baru, semangat yang baru. Mudah-mudahan saya akan berjuang maksimal untuk bisa membantu di hilirnya, sehingga di hulunya ini tetap bergerak dengan baik,” pungkasnya.



