Sangatta – Malam pembukaan Festival Magic Land 2025 di Polder Ilham Maulana, Jumat (14/11/2025), berubah menjadi momen penuh penghormatan saat delapan seniman dan budayawan lokal menerima Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
Anugerah ini diserahkan langsung oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para pelaku seni dalam menjaga, mengembangkan, dan menghidupkan kekayaan budaya lokal.
“Saya sangat mengapresiasi para seniman yang sudah memajukan Kutai Timur melalui karya seni dan budaya. Semoga ini memacu semangat generasi muda agar terlibat dan muncul regenerasi baru,” ujar Ardiansyah di hadapan hadirin.
Delapan penerima penghargaan tersebut adalah:
- Mohammad Azmin – Kreator seni tari
- Maryam Aria Arifin – Kreator seni tari
- Nisma Mawardah – Pelestari bahasa dan sastra
- Agung Suroso – Kreator seni rupa
- Syarwali Ahmad Assegaf – Kreator seni rupa
- Zulfikar Muhammad Nugroho – Pelestari seni musik
- Ises Rahayu – Pelestari wastra
- Aflinizar Julianur Fajar – Generasi muda berbudaya
Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, menyebut bahwa proses seleksi dilakukan dengan cermat. Dari 17 usulan yang masuk, hanya delapan yang dinilai memenuhi kriteria tahun ini.
“Tahun ini baru dimulai. Tahun depan, penerima akan mendapatkan sertifikat resmi. Kita ingin penghargaan ini menjangkau lebih banyak tokoh, termasuk budayawan dan tokoh adat,” jelasnya.
Salah satu penerima, Syarwali Ahmad Assegaf, mengungkapkan rasa syukurnya atas penghargaan ini. Ia menyebut bahwa pengakuan dari pemerintah merupakan langkah awal penting, namun berharap ke depan ada dukungan lebih konkret, terutama dalam hal infrastruktur seni dan ruang berekspresi yang layak.
“Ini apresiasi yang luar biasa karena baru pertama kali terjadi. Harapan saya, publikasi diperluas dan ilmu seni ini bisa terus ditularkan ke generasi muda,” ungkap Syarwali.
Pemberian Anugerah Kebudayaan ini menandai komitmen Pemkab Kutim dalam memperkuat peran seni budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Selain menjadi ajang hiburan, Festival Magic Land juga menjadi forum strategis untuk meneguhkan identitas budaya daerah.
Dengan menjadikan seniman lokal sebagai garda depan pelestarian budaya, Kutai Timur menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menjauh dari akar tradisi. Justru dari budaya, lahir kekuatan sosial yang menyatukan masyarakat dan memperkaya nilai pembangunan. (ADV).


