Ads

Muara Bengkal Tekan Stunting Lewat Kolaborasi

Sangatta – Perjuangan melawan stunting di Muara Bengkal tak ubahnya kerja maraton yang membutuhkan napas panjang dan kebersamaan. Dari 158 anak terdampak, angka itu kini turun menjadi 121 anak pada awal Januari 2026. Penurunan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Camat Muara Bengkal, Mansyur Ady, menegaskan komitmennya dalam mempercepat penanganan stunting melalui strategi jemput bola dan pelibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah desa hingga pihak swasta. Hal itu disampaikannya dalam Podcast Bangga Kencana bertema Peran TPPS Kecamatan Mendukung Layanan Cap Jempol Stop Stunting di Kutai Timur yang digelar di Ruang Multimedia Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Kutai Timur, Rabu (18/2/2025).

Berdasarkan data, terdapat 542 keluarga berisiko stunting di Muara Bengkal. Kondisi ini mendorong Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan untuk menyusun langkah terukur berbasis data by name by address agar intervensi tepat sasaran. Validasi ulang dilakukan oleh kader desa untuk memastikan setiap keluarga yang masuk kategori risiko benar-benar terpantau.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi adalah kunci. Pemerintah desa, RT, hingga perusahaan harus terlibat aktif,” ujar Mansyur.

Ia menjelaskan, kecamatan secara rutin menggelar rembuk stunting dua kali dalam setahun sebagai forum menyamakan persepsi dan menyusun rencana aksi bersama. Selain itu, pemerintah desa didorong mengalokasikan dana desa khusus untuk program pencegahan dan penanganan stunting, mulai dari edukasi gizi hingga perbaikan sanitasi.

Upaya tersebut juga diperkuat dengan koordinasi bersama Dinas Ketahanan Pangan untuk menyalurkan bantuan pangan bergizi kepada keluarga berisiko. Dukungan sektor swasta turut mempercepat intervensi, di antaranya kontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan seperti PT Nala dan PT Telen Prima Sawit.

Menurut Mansyur, pendekatan jemput bola melalui layanan Cap Jempol menjadi instrumen penting untuk memastikan pemerintah hadir langsung di tengah masyarakat. Aparat kecamatan bersama kader dan tenaga kesehatan turun ke lapangan guna memantau kondisi anak serta memberikan pendampingan kepada keluarga.

“Siapa lagi yang bekerja untuk daerah kita kalau bukan kita sendiri. Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia menilai, kehadiran langsung aparat bukan hanya mempercepat penanganan, tetapi juga membangun kepercayaan warga terhadap program pemerintah. Masyarakat merasa diperhatikan dan lebih terbuka dalam menerima edukasi serta bantuan yang diberikan.

Penurunan dari 158 menjadi 121 kasus menunjukkan bahwa strategi berbasis kolaborasi dan validasi data mampu menghasilkan dampak konkret. Meski demikian, Mansyur mengakui perjuangan belum selesai. Dengan ratusan keluarga berisiko, upaya pencegahan harus terus digencarkan agar tidak muncul kasus baru.

Melalui sinergi pemerintah, desa, kader, dan perusahaan, Muara Bengkal optimistis dapat terus menekan angka stunting secara berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *