Kutim – “Menjemput persoalan sebelum menjadi lebih besar” menjadi semangat Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur dalam memperkuat penanganan keluarga berisiko stunting (KRS). Melalui layanan jemput bola, petugas tidak hanya mengandalkan data di atas kertas, tetapi turun langsung melihat kondisi keluarga sasaran agar bentuk intervensi yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Layanan Jemput Bola Stop Stunting tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Karangan Dalam, Kecamatan Karangan, Kamis (13/8/2026). Sebelum kegiatan utama berlangsung, rombongan DPPKB Kutim mendatangi dua keluarga berisiko stunting di Desa Karangan. Kunjungan itu diisi dengan pemberian edukasi sekaligus penyaluran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bersumber dari Baznas Kutai Timur sebagai bagian dari upaya mempercepat pencegahan dan penanganan stunting.
Kepala Bidang Keluarga Berencana DPPKB Kutim, Mustika, yang hadir mewakili Pelaksana Harian Kepala DPPKB Kutim, menjelaskan bahwa layanan jemput bola menjadi bagian dari evaluasi terhadap berbagai upaya penanganan stunting yang selama ini telah dijalankan. Pendekatan langsung dinilai penting untuk memastikan kondisi keluarga sasaran dapat diketahui secara menyeluruh sekaligus mempercepat penentuan intervensi yang diperlukan.
“Layanan Jemput Bola Stop Stunting hari ini merupakan bagian evaluasi penanganan stunting yang telah kita laksanakan bersama,” kata Mustika.
Ia menegaskan, program tersebut juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan program prioritas Bupati Kutai Timur dalam pencegahan serta percepatan penurunan stunting. Karena itu, penanganan keluarga berisiko stunting tidak cukup dilakukan hanya dengan membaca angka dan data, tetapi membutuhkan pengecekan langsung terhadap kondisi nyata setiap keluarga.
Dalam kunjungan lapangan, sejumlah indikator menjadi perhatian petugas. Di antaranya tingkat kesejahteraan keluarga, kondisi bayi di bawah dua tahun atau baduta dan balita, ketersediaan air bersih, kepemilikan jamban sehat, kelayakan tempat tinggal, hingga posisi tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan kelompok desil. Pemeriksaan kondisi tersebut diharapkan mampu menunjukkan faktor mana yang paling membutuhkan penanganan.
DPPKB Kutim juga memberikan perhatian terhadap pasangan usia subur (PUS) yang memiliki faktor risiko 4T, yakni terlalu dekat jarak kelahiran, terlalu banyak jumlah anak, terlalu muda saat hamil, dan terlalu tua saat mengalami kehamilan. Edukasi mengenai penggunaan kontrasepsi modern turut diberikan sebagai bagian dari pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.
Berdasarkan data terakhir Sistem Informasi Keluarga (SIGA), Kecamatan Karangan tercatat memiliki 303 keluarga berisiko stunting. Jumlah itu tersebar di Desa Karangan Dalam sebanyak 49 kepala keluarga, Batu Lepoq 77 keluarga, Pengadan 105 keluarga, Baay 18 keluarga, Mukti Lestari 21 keluarga, Karangan Seberang 21 keluarga, serta Karangan Hilir sebanyak 12 keluarga.
Mustika berharap berbagai faktor yang menyebabkan keluarga masuk dalam kategori KRS dapat segera ditangani melalui intervensi yang tepat. Dengan penanganan yang terarah dan berkelanjutan, jumlah keluarga berisiko stunting di Kecamatan Karangan diharapkan terus menurun serta keluarga sasaran dapat bergerak menuju kondisi yang lebih sehat dan sejahtera.
Dukungan terhadap langkah DPPKB Kutim juga disampaikan Camat Karangan, H. Muhammad Reza Fahlevi. Ia menilai pendekatan jemput bola sangat membantu pemerintah kecamatan maupun pemerintah desa dalam mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai kondisi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan jemput bola ini. Dengan turun langsung ke lapangan, kita bisa melihat kondisi masyarakat secara nyata dan mengetahui apa saja yang masih menjadi persoalan,” ujar Reza.
Menurut Reza, penanganan stunting membutuhkan kerja bersama yang tidak berhenti pada satu kegiatan. Pemerintah daerah, pemerintah desa, DPPKB, Baznas, dunia usaha, hingga masyarakat perlu terus membangun kolaborasi agar setiap persoalan yang menjadi pemicu risiko stunting dapat ditangani sesuai kewenangan dan kemampuan masing-masing.
Dalam kegiatan tersebut, DPPKB Kutim sekaligus mendorong penguatan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Bantuan PMT dari Baznas Kutai Timur diserahkan secara simbolis dan selanjutnya akan disalurkan melalui petugas penyuluh keluarga berencana atau PLKB di tingkat kecamatan kepada keluarga yang membutuhkan.
Melalui layanan jemput bola, DPPKB Kutim berharap penanganan stunting semakin tepat sasaran karena berangkat dari kondisi nyata keluarga. Kolaborasi lintas sektor, dukungan bantuan gizi, perbaikan lingkungan, edukasi keluarga, serta pendampingan berkelanjutan menjadi bagian penting untuk menekan jumlah keluarga berisiko stunting sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Karangan.


