Ads

Catatan Jahe Ketan Pak Lek Imam di Moment Hari Tani Nasional

Jahe Ketan Pak Lek ImBayam dan Kangkung Dua Puluh Hari
“Paklek, sampeyan dulu pernah jadi petani, to?”
Pertanyaan itu datang dari seorang anak muda di sela obrolan santai sore itu. Saya tertawa kecil.
“Lho, kok tahu?”
“Ada berita lama, Paklek. Katanya dulu nanam sayur hidroponik, sampai dikirim ke Surabaya.”

Saya terdiam sejenak. Tiba-tiba ingatan saya melayang ke masa pandemi, masa yang tanpa diduga mengantar saya bergumul dengan dunia pertanian. Dunia yang sebenarnya tidak pernah jauh dari kita. Kediri tumbuh di tengah hamparan sawah, ladang tebu, dan tanah subur yang disiram abu Kelud selama berabad-abad. Leluhur kita hidup dari tanah. Anehnya, justru pandemi yang membuat saya menyadarinya.

Obrolan sore itu terasa pas waktunya. Setiap 24 September kita memperingati Hari Tani Nasional, yang tahun ini sudah ke-66. Peringatan ini lahir dari Undang-Undang Pokok Agraria 1960, yang menegaskan bahwa tanah dan hasil bumi harus membawa kemakmuran bagi rakyat.

Pertanyaannya, di tengah peringatan itu, masih adakah anak muda yang mau menjadi petani?

Dari proyek sepi ke pipa paralon
Awal pandemi dulu, usaha saya ikut sepi. Bisnis terhenti, project libur, telepon jarang berdering. Kepusingan mengantarkan saya untuk melirik sebidang lahan kecil, cuma 10×15 meter. Daripada diam, lebih baik lahan itu disuruh bekerja.

Dari situlah saya nyemplung ke hidroponik. Deretan pipa paralon, bibit yang disemai satu per satu, air nutrisi yang terus mengalir. Saya belajar bahwa bertani tidak selalu soal cangkul, lumpur, dan sawah berhektare-hektare.

Juaranya adalah Bayam dan kangkung. Sayur yang sering diremehkan ini bisa dipanen dalam sekitar dua puluh hari, dan pasarnya jelas, karena hampir semua warung punya menu tumis kangkung. Pakcoy, selada, dan bayam merah menyusul. Hasil kebun kecil itu masuk ke pusat perbelanjaan di Kediri, sebagian dikirim sampai Surabaya.

Saya tidak sendirian. Di Kota Kediri tumbuh komunitas petani hidroponik yang saling berbagi ilmu. Mahasiswa dari luar kota bahkan datang magang untuk belajar meracik nutrisi di greenhouse-greenhouse kita.

Pengalaman itu meninggalkan satu pelajaran: bertani itu soal hitungan, bukan soal gengsi. Satu meter persegi bisa menampung puluhan titik tanam, dan modal berputar cepat. Yang paling pasti, wong urip kudu mangan. Selama manusia masih makan, pangan tidak akan sepi pembeli.

Untuk anak-anak muda Kota Kediri
Saya paham kenapa banyak anak muda enggan bertani. Petani identik dengan kerja keras, hasil tak menentu, dan hidup pas-pasan. Tapi itu gambaran pertanian cara lama.

Kalian punya modal yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Kalian akrab dengan teknologi, bisa berjualan lewat ponsel, pandai membuat konten, dan cepat belajar. Petani muda hari ini tidak harus punya sawah. Cukup atap rumah, pekarangan sempit, atau lahan kosong di kampung. Yang dibutuhkan hanya keberanian untuk memulai, walau dari lima puluh lubang tanam.

Ojo isin dadi petani. Yang memalukan justru kalau kita punya lahan dan kemampuan, tapi memilih menonton peluang lewat begitu saja.

Untuk kita di pemerintahan
Keberanian anak muda perlu disambut. Selama ini program pertanian sering berhenti di pembagian bibit dan pelatihan sehari yang ramai difoto. Setelah itu sepi, dan tanamannya layu bersama semangat pesertanya.

Pemuda butuh ruang: lahan tidur atau fasilitas umum di kelurahan yang boleh digarap. Mereka butuh pendampingan yang sabar sampai panen pertama, bahkan sampai panen kesepuluh. Yang paling menentukan, mereka butuh kepastian pasar.

Kantin sekolah, katering, pasar rakyat, sampai dapur-dapur program makan bergizi bisa jadi pembeli pertama sayur hasil anak muda Kediri.
Pemerintah juga perlu melahirkan contoh sukses.

Anak muda lebih percaya pada teman sebayanya yang berhasil daripada pada seribu imbauan. Satu petani muda yang sukses dan tampil di media sosial bisa membuka jalan bagi seratus lainnya.

Menanam harapan
Kadang saya rindu suasana greenhouse itu: bau air nutrisi, daun kangkung yang tumbuh hari demi hari, dan rasa puas saat panen diangkut ke pembeli. Mungkin karena bertani mengajarkan sesuatu yang jarang diajarkan tempat lain, yaitu kesabaran yang ada hasilnya.

Ayo, Le, Nduk, anak-anak muda Kota Kediri. Masa depan pertanian tidak ada di belakang kita, tapi di depan kita. Tinggal siapa yang berani menanam lebih dulu.

Kangkung saja butuh dua puluh hari untuk tumbuh. Harapan juga begitu. Asal ditanam, dirawat, dan tidak ditinggal pergi.

Selamat Hari Tani Nasional.
Paklek Imam
Imam Wihdan Zarkasyi, ST., MM
.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *