Kukar – Ketersediaan air menjadi salah satu persoalan penting dalam penanganan kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk. Pascakebakaran di Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) mulai mengkaji alternatif penyediaan sumber air untuk mendukung petugas pemadam kebakaran ketika menghadapi situasi darurat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengungkapkan bahwa pemerintah telah membahas kemungkinan pemasangan hidran bersama Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Mahakam dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kukar. Namun, rencana tersebut menghadapi kendala teknis karena kapasitas jaringan pipa air di kawasan Danau Aji belum mampu mendukung kebutuhan hidran.
Saat ditemui pada Kamis (8/10/2026), Sunggono menjelaskan bahwa pipa distribusi air yang saat ini melayani masyarakat di kawasan tersebut hanya berdiameter 2,5 inci. Sementara itu, menurutnya, kebutuhan pemasangan hidran memerlukan ukuran pipa yang lebih besar agar pasokan air dapat mencukupi kebutuhan pemadaman.
“Ini sudah saya diskusikan dengan teman-teman di PDAM. Kapasitas pipa yang memberikan pelayanan air kepada warga di sini tidak memungkinkan untuk dipasang hidran, karena pipanya hanya 2,5 inci. Untuk hidran itu minimal 4 atau 6 inci karena kebutuhan airnya besar,” jelasnya.
Keterbatasan kapasitas pipa tersebut menjadi pertimbangan pemerintah dalam menentukan langkah lanjutan. Pemasangan hidran tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan titik pengambilan air, tetapi juga harus didukung jaringan yang mampu memasok air dalam jumlah memadai saat proses pemadaman berlangsung.
Karena kondisi jaringan air belum mendukung, Pemkab Kukar turut mempertimbangkan alternatif berupa penyediaan tempat penampungan air di sekitar kawasan permukiman. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber air yang dapat dimanfaatkan petugas apabila terjadi kebakaran.
Sunggono menyebutkan, pemerintah bahkan membuka kemungkinan pengadaan lahan milik masyarakat untuk dijadikan lokasi penampungan air. Meski demikian, gagasan tersebut masih berada dalam tahap pembahasan dan memerlukan kajian lebih lanjut sebelum dapat direalisasikan.
“Tidak mustahil, misalnya nanti di antara lahan masyarakat itu kita beli untuk tempat penampungan air ketika ada kebakaran, sehingga airnya bisa diambil,” ungkapnya.
Alternatif penampungan air menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan karena karakteristik kawasan Danau Aji memiliki tantangan tersendiri. Selain persoalan kapasitas jaringan pipa, akses menuju permukiman juga menjadi perhatian dalam evaluasi penanganan kebakaran.
Pada kawasan dengan jalan sempit, kendaraan pemadam kebakaran dapat menghadapi kesulitan untuk menjangkau lokasi. Oleh sebab itu, ketersediaan sumber air yang mudah dimanfaatkan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan fasilitas pendukung pemadaman.
Kendati demikian, Sunggono menegaskan bahwa pembangunan fasilitas tidak boleh hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur. Pemerintah juga harus memastikan sarana tersebut dapat berfungsi dengan baik melalui pemeliharaan yang terencana.
“Yang menjadi tantangan itu hidran harus dipelihara. Bagaimana cara memeliharanya dan siapa yang bertanggung jawab, nanti juga akan kita formulasikan kebijakannya,” kata dia.
Menurutnya, diperlukan kebijakan yang mengatur pengelolaan fasilitas agar hidran yang nantinya dibangun tidak mengalami penurunan fungsi akibat kurangnya perawatan.
Salah satu gagasan yang turut dibahas adalah memanfaatkan titik hidran untuk kegiatan tertentu, seperti mencuci selang pemadam kebakaran. Pemanfaatan tersebut dinilai dapat menjadi kesempatan untuk memantau kondisi fasilitas secara berkala sekaligus memastikan sarana tetap dapat digunakan ketika diperlukan.
Di sisi lain, evaluasi pemerintah tidak terbatas pada kawasan Danau Aji. Pemkab Kukar juga merencanakan inventarisasi wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi, khususnya permukiman padat dengan keterbatasan akses kendaraan.
Hasil pendataan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan fasilitas pemadaman, termasuk kemungkinan penyediaan hidran maupun tempat penampungan air sesuai kondisi masing-masing kawasan.
Dengan berbagai alternatif yang sedang dikaji, Pemkab Kukar berupaya menyiapkan langkah penanganan yang lebih sesuai dengan tantangan di lapangan. Pembahasan mengenai jaringan hidran, penampungan air, dan pemeliharaan fasilitas menjadi bagian dari evaluasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di kawasan permukiman. (Adv/Kukar/Diskominfo/Ndy).



