Ads

Ustadz Muhammad Arif Ajak Jamaah Masjid Baitul Muhibbin Simono Mencintai Rasulullah

Kutim – Suasana religius menyelimuti Masjid Baitul Muhibbin di Jalan Simono, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, saat jamaah berkumpul memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Di tengah lantunan selawat dan kebersamaan warga, Ustadz Muhammad Arif mengingatkan bahwa kesempatan hadir dalam majelis ilmu bukan sekadar rutinitas, melainkan nikmat yang harus disyukuri dan dijaga.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tersebut diselenggarakan oleh Panitia Penyelenggara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Masjid Baitul Muhibbin. Kegiatan dihadiri jamaah dan masyarakat sekitar Simono yang sejak awal mengikuti rangkaian acara dengan khidmat. Selain pembacaan selawat dan doa, kegiatan diisi sambutan Ketua Panitia H. Imron serta ceramah agama yang disampaikan Ustadz Muhammad Arif.

Dalam sambutannya, H. Imron mengungkapkan rasa syukur karena masyarakat masih diberi nikmat iman, kesehatan, serta kesempatan untuk berkumpul dalam peringatan kelahiran Rasulullah SAW. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Kami atas nama panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Bapak, Ibu, dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini, baik berupa tenaga, materi, maupun hubungan lainnya. Semoga segala bantuan dan keikhlasannya menjadi amal ibadah dan mendapatkan balasan berlipat ganda dari Allah SWT,” kata H. Imron.

Ia berharap momentum Maulid Nabi mampu menambah kecintaan jamaah kepada Rasulullah SAW sekaligus membawa keberkahan bagi keluarga serta seluruh jamaah Masjid Baitul Muhibbin.

“Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad ini, semoga semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Semoga dengan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, Allah memberikan keberkahan dalam kehidupan kita, keluarga kita, dan juga semua jamaah Masjid Baitul Muhibbin,” ujarnya.

Sementara itu, Ustadz Muhammad Arif dalam ceramahnya mengaku terharu melihat kekompakan jamaah Baitul Muhibbin. Ia menilai semangat masyarakat Simono untuk datang ke masjid dan mengikuti majelis merupakan hal yang patut diapresiasi, terlebih di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.

“Banyak orang tidak ditakdirkan hadir ke majelis, ilmu dan majelis zikir dan peringatan Maulid Nabi. Semoga diberi keberkahan umur,” kata Ustadz Muhammad Arif.

Menurutnya, tidak semua orang mudah diajak mengikuti pengajian. Bahkan, kata dia, dalam berbagai kesempatan masih ada orang yang merasa berat ketika harus duduk cukup lama untuk mendengarkan ilmu agama.

“Gampang apa susah? Susah, Pak. Rata-rata kalau diajak ngaji itu susah, bahkan yang mau ngaji itu dipesenin dulu, nanti jangan lama-lama ya Pak Ustaz. Pokoknya kira-kira paling lama 40 menit, jangan terlalu panjang,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Pernyataan itu disampaikan dengan gaya ringan yang mengundang perhatian jamaah. Namun di balik candaan tersebut, ia menekankan pesan serius bahwa kecintaan terhadap majelis ilmu perlu terus ditumbuhkan. Menurutnya, orang yang bersedia meluangkan waktu untuk datang ke masjid telah mengambil satu langkah penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Alhamdulillah malam ini kita ditakdir mau hadir ke masjid, mau ngaji bersama. Sekali lagi kita mohon kepada Allah, mudah-mudahan berkahnya ngaji, berkah umurnya, berkah rizkinya,” ujarnya.

Ustadz Muhammad Arif kemudian mengajak jamaah memperbanyak selawat kepada Rasulullah SAW. Selawat, menurutnya, bukan hanya lantunan yang dibaca ketika peringatan Maulid, tetapi juga menjadi pengingat agar umat Islam terus menjaga hubungan batin dengan Nabi Muhammad SAW melalui pengamalan ajarannya.

“Mudah-mudahan barokahnya sholawat Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ma’unah kepada kita semua sehingga kita dapat istiqomah untuk menjalankan tuntunan dan ajaran Rasulullah,” katanya.

Ia menegaskan bahwa istiqamah merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Tidak cukup hanya mengenal kisah Nabi atau mengagumi perjuangan beliau, umat Islam juga perlu berusaha meniru akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

“Istiqomah meneladani akhlak Rasulullah sehingga kelak di hari perhitungan amal kita diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya. Amin ya Rabbal Alamin,” tutur Ustadz Muhammad Arif.

Dalam ceramah tersebut, Ustadz Muhammad Arif juga mulai mengulas kisah awal kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ia merujuk pada kisah yang dikenal dalam pembacaan Maulid Ad-Diba’i dan mengajak jamaah memahami perjalanan Rasulullah sejak awal penciptaan hingga kelahirannya.

“Dalam kesempatan yang penuh berkah ini kami ingin menyampaikan kisah bagaimana awalnya Rasulullah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kitab Maulid Ad-Diba’i yang dikarang oleh Asyraf Abdul Rahman Ad-Diba’i, di sana ada satu hadis, Al-Hadithul Awal, hadis yang pertama,” ujarnya.

Penyampaian kisah tersebut menjadi bagian dari upaya mengajak jamaah tidak hanya merayakan Maulid secara seremonial, tetapi juga memahami kehidupan Nabi Muhammad SAW lebih dalam. Dengan mengenal perjalanan Rasulullah, umat diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mencintai dan mengikuti teladan beliau.

Nabi Muhammad SAW dikenal lahir di Makkah pada Tahun Gajah dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahb. Ayah beliau wafat ketika Nabi Muhammad SAW masih berada dalam kandungan. Setelah lahir, Rasulullah tumbuh dalam lingkungan Bani Hasyim dan menjalani perjalanan kehidupan yang kemudian menjadi teladan bagi umat Islam hingga sekarang.

Bagi Ustadz Muhammad Arif, menghadiri peringatan Maulid seharusnya membawa perubahan pada sikap dan perilaku jamaah. Kecintaan kepada Rasulullah, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan ajaran agama, memperbaiki akhlak, menjaga selawat, serta membiasakan diri hadir dalam majelis ilmu.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Baitul Muhibbin pun menjadi ruang memperkuat hubungan antarjamaah sekaligus menghidupkan tradisi keagamaan di Simono. Kekompakan warga yang mendapat perhatian khusus dari Ustadz Muhammad Arif diharapkan terus terpelihara, bukan hanya saat perayaan Maulid, tetapi juga dalam salat berjamaah, pengajian, zikir, dan aktivitas sosial keagamaan lainnya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, jamaah diingatkan bahwa keberkahan majelis tidak hanya terletak pada ramainya acara, tetapi juga pada ilmu yang dibawa pulang dan diamalkan. Pesan untuk istiqamah, memperbanyak selawat, mencintai Rasulullah, serta meneladani akhlaknya menjadi inti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Baitul Muhibbin Simono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *