Ads
Ads

Pamsimas Menamang Kiri Beroperasi, Air Jadi Kendala

Kukar – Aliran air akhirnya mulai bergerak, tetapi sumbernya masih menjadi pekerjaan rumah. Fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Menamang Kiri, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), telah mulai beroperasi, meski persoalan ketersediaan air baku ketika musim kemarau belum sepenuhnya teratasi.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kukar memastikan fasilitas tersebut sudah dapat difungsikan setelah sebelumnya menjadi perhatian masyarakat. Berdasarkan hasil konfirmasi yang dilakukan pemerintah daerah, Pamsimas Menamang Kiri disebut telah berjalan dalam sekitar dua pekan terakhir. Kendala utama yang masih dihadapi bukan lagi pada keberadaan fasilitas, melainkan kemampuan sumber air dalam memenuhi kebutuhan operasional secara berkelanjutan.

Kepala Disperkim Kukar, M. Aidil mengatakan, pihaknya telah mengecek perkembangan terbaru terkait fasilitas Pamsimas tersebut. Hasilnya menunjukkan pelayanan sudah mulai berjalan dan sarana yang dibangun telah dapat digunakan.

“Kami sudah konfirmasi, sebenarnya itu sudah berjalan. Dua minggu yang lalu juga sudah berjalan,” kata Aidil.

Meski telah beroperasi, keberlanjutan pelayanan masih bergantung pada kondisi sumber air baku. Pada saat musim kemarau, debit sumber air mengalami penurunan sehingga kemampuan fasilitas dalam menyalurkan air kepada masyarakat ikut terdampak. Kondisi tersebut membuat pengelola dan pemerintah perlu mencari alternatif sumber lain yang lebih stabil.

“Memang kemarin terkendala dengan sumber airnya. Surut. Makanya mereka mohon sumber, kalau tidak salah kemarin ke perusahaan,” ujarnya.

Permintaan dukungan kepada pihak perusahaan menjadi salah satu upaya yang muncul untuk mencari jalan keluar atas keterbatasan sumber air. Keberadaan sumber alternatif diperlukan agar fasilitas Pamsimas tidak hanya dapat beroperasi pada kondisi tertentu, tetapi mampu memenuhi kebutuhan warga secara berkelanjutan sepanjang tahun.

Aidil juga menilai komunikasi antara pemerintah desa dan perangkat daerah perlu terus diperkuat. Sebelumnya, kondisi Pamsimas Menamang Kiri sempat menjadi bahan pembahasan dalam rapat dengar pendapat. Namun perkembangan terbaru menunjukkan bahwa sarana tersebut telah mulai berjalan.

Perbedaan antara informasi sebelumnya dengan kondisi terkini di lapangan menunjukkan pentingnya pembaruan informasi secara berkala. Pemerintah desa, pengelola Pamsimas, perangkat daerah, hingga masyarakat membutuhkan komunikasi yang lebih intensif agar persoalan teknis maupun kebutuhan dukungan dapat segera ditindaklanjuti.

Walaupun sarana sudah berfungsi, persoalan air baku tetap menjadi hal mendasar. Sistem penyediaan air tidak dapat bekerja secara maksimal apabila sumbernya mengalami penyusutan drastis ketika musim kering. Karena itu, pencarian sumber baru maupun pengembangan sumber alternatif dinilai penting untuk menjaga kontinuitas pelayanan.

Keterlibatan berbagai pihak dapat menjadi bagian dari penyelesaian tersebut. Selain pemerintah desa dan Pemkab Kukar, perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Menamang Kiri juga diharapkan dapat memberikan dukungan apabila memungkinkan, terutama berkaitan dengan pencarian maupun pemanfaatan sumber air yang dapat menunjang kebutuhan warga.

Disperkim Kukar akan terus melakukan koordinasi agar sarana yang telah dibangun tidak berhenti pada penyelesaian infrastruktur fisik semata. Kebermanfaatan fasilitas bagi masyarakat menjadi bagian penting dari evaluasi, terutama menyangkut keberlanjutan pelayanan air bersih.

Program Pamsimas sendiri memiliki posisi penting dalam membantu masyarakat pedesaan memperoleh akses air bersih, khususnya pada wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan air perpipaan. Dengan sarana berbasis masyarakat, warga diharapkan memiliki akses yang lebih dekat terhadap kebutuhan dasar tersebut.

Beroperasinya Pamsimas Menamang Kiri menjadi perkembangan positif bagi pelayanan dasar masyarakat desa. Namun, kestabilan sumber air masih menjadi kunci agar fasilitas itu dapat digunakan secara optimal. Penyelesaian persoalan air baku melalui koordinasi pemerintah, desa, masyarakat, dan pihak terkait diharapkan mampu membuat pelayanan berjalan lebih konsisten, termasuk ketika musim kemarau tiba.

(ADV/Kukar/Ndy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *