Penulis: Pak Lek Imam sapaan akrab Imam Wihdan Zarkasyi Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kesiri
Imam Wihdan Zarkasyi melihat Kediri punya modal sejarah, pendidikan dan generasi muda yang besar. Tantangannya kini bukan sekadar menjaga api tetap menyala, tetapi membuatnya menjadi kobaran yang mengubah masa depan.
Kediri, WartaPanjalu.com — Jangan buru-buru melihat Kota Kediri hanya sebagai kota kecil di tepi Sungai Brantas.
Di balik jalan-jalan kota, pesantren, sekolah, kampus, pasar hingga geliat ekonomi masyarakat, ada cerita panjang yang telah berlangsung hampir seribu tahun.
Cerita itulah yang coba dibongkar Imam Wihdan Zarkasyi, ST., MM., atau yang akrab disapa Pak Lek Imam, melalui buku Kota Kediri: Di Mana Api Ilmu Tak Pernah Padam.
Bagi Pak Lek Imam, sejarah Kediri bukan sekadar cerita tentang kerajaan yang pernah berjaya. Ada satu benang merah yang menurutnya jauh lebih penting: tradisi ilmu yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari pujangga di era Kerajaan Kediri, berpindah ke pesantren, sekolah, hingga perguruan tinggi.
Api itu berubah bentuk.
Tetapi tidak padam.
Pak Lek Imam, Legislator yang Memilih Menulis Kediri dari Sudut Berbeda
Nama Imam Wihdan Zarkasyi bukan nama baru dalam panggung politik Kota Kediri.
Ia merupakan anggota DPRD Kota Kediri periode 2024–2029 dari Partai Golkar. Pada Pemilu 2024, Imam maju dari Dapil 3 dan memperoleh 3.035 suara. KPU Kota Kediri kemudian menetapkannya sebagai salah satu calon terpilih.
Di DPRD, Imam juga dikenal sebagai Ketua Fraksi Golkar. Pemerintah Kota Kediri mencatat Imam menjadi juru bicara Fraksi Golkar dalam penyampaian pendapat akhir fraksi terkait sejumlah rancangan peraturan daerah.
Namun, Pak Lek Imam tidak hanya bicara tentang politik dan kebijakan.
Ia juga mencoba melihat Kediri dari perspektif yang lebih panjang.
Buku yang ditulisnya pada 2026 itu seolah menjadi upaya untuk mengajak warga berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya:
Setelah hampir seribu tahun perjalanan Kediri, kita mau membawa kota ini ke mana?
Dari Dahanapura, Ada Api yang Tidak Pernah Mati
Dalam bukunya, Pak Lek Imam mengangkat Dahanapura sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami Kediri.
Dahanapura disebut memiliki makna “Kota Api” dan tercatat dalam Prasasti Pamwatan tahun 1042 Masehi. Dari titik itulah perjalanan panjang Kediri sebagai pusat peradaban mulai ditarik.
Kediri kemudian dikenal sebagai salah satu pusat penting sastra Jawa Kuno.
Nama Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, misalnya, tidak sekadar menjadi nama dalam buku sejarah. Karya Bharatayuddha menjadi salah satu bukti bahwa pada zamannya Kediri memiliki tradisi intelektual yang kuat.
Pak Lek Imam seperti ingin mengatakan: Kediri sudah lama memiliki DNA sebagai kota ilmu.
Persoalannya sekarang bukan apakah Kediri memiliki sejarah tersebut.
Persoalannya adalah apakah generasi hari ini mampu melanjutkan api itu.
Kerajaan Boleh Runtuh, Tradisi Ilmu Jangan Ikut Mati
Ada bagian menarik dalam buku tersebut.
Ketika Kerajaan Kediri runtuh, tradisi keilmuan tidak ikut terkubur.
Api itu berpindah tempat.
Dari lingkungan keraton, kemudian menemukan ruang baru di pesantren. Tradisi membaca, menghafal, mengkaji dan mendiskusikan ilmu terus berjalan dalam bentuk yang berbeda.
Lirboyo menjadi salah satu contoh penting dalam perjalanan tersebut.
Lalu zaman berubah lagi.
Pesantren berdampingan dengan sekolah formal. Perguruan tinggi tumbuh. Kampus-kampus hadir dengan disiplin ilmu yang semakin beragam.
Bagi Pak Lek Imam, perubahan wadah itu bukan berarti kehilangan identitas.
Justru di situlah kekuatan Kediri.
Ilmu tidak mati hanya karena zaman berubah.
Kediri Punya 20 Lebih Kampus, Tapi Jangan Cepat Berpuas Diri
Hari ini, Kediri memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang semakin berkembang.
Buku Pak Lek Imam mencatat keberadaan lebih dari 20 perguruan tinggi di Kota Kediri dan sekitarnya. Mulai dari perguruan tinggi keagamaan, kampus umum, hingga institusi kesehatan.
Namun, angka tersebut bukan alasan untuk bertepuk tangan lalu berhenti.
Justru sebaliknya.
Itu adalah tantangan.
Sebab pendidikan tidak hanya membutuhkan gedung kampus dan jumlah mahasiswa.
Pendidikan membutuhkan ekosistem.
Masyarakat harus ikut bergerak. Dunia usaha harus masuk. Pemerintah harus menciptakan ruang. Komunitas harus hidup. Dan generasi muda harus mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Gagasan serupa juga terlihat dalam aktivitas Imam di ruang publik. Pada 2026, ia mendorong penguatan ekosistem pendidikan dan komunitas untuk menjaga bahasa serta budaya Jawa, dengan menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup tanpa keterlibatan masyarakat.
Pak Lek Imam Melihat Ada Bom Waktu Bernama Bonus Demografi
Kediri juga sedang menghadapi momentum penting.
Dalam buku tersebut disebutkan sekitar 65,91 persen penduduk berada pada usia produktif. Kelompok usia 20–24 tahun menjadi salah satu kelompok umur terbesar.
Ini bisa menjadi kekuatan besar.
Tetapi juga bisa menjadi persoalan jika tidak dikelola.
Bonus demografi bukan kesempatan yang berlangsung selamanya.
Buku tersebut memperkirakan jendela bonus demografi Kediri akan mulai tertutup sekitar 2035. Artinya, ada waktu terbatas untuk memastikan generasi produktif hari ini mendapatkan pendidikan, keterampilan, pekerjaan dan ruang untuk berkontribusi.
Di titik ini, pesan Pak Lek Imam terasa cukup keras:
Kediri tidak boleh hanya bangga dengan sejarahnya.
Kediri harus mampu membuktikan bahwa sejarah tersebut masih memiliki daya dorong untuk masa depan.
Dhoho dan Tol: Pintu Baru Sudah Dibuka
Kehadiran Bandara Internasional Dhoho Kediri juga mengubah posisi kota.
Dalam buku Pak Lek Imam, bandara dilihat bukan sekadar tempat pesawat datang dan pergi.
Ia adalah pintu.
Pintu yang membuka Kediri terhadap mobilitas manusia, pendidikan, investasi, bisnis dan peluang baru.
Begitu pula dengan konektivitas jalan tol.
Ketika akses semakin mudah, batas geografis Kediri dengan daerah-daerah di sekitarnya ikut berubah.
Mahasiswa dari Tulungagung, Blitar, Nganjuk dan kawasan sekitar menjadi bagian dari potensi pasar pendidikan Kediri yang lebih luas.
Tetapi sekali lagi, infrastruktur hanya membuka pintu.
Yang menentukan apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka adalah manusia di dalamnya.
Pak Lek Imam Tidak Ingin Kediri Hanya Jadi Penonton
Inilah bagian paling menarik dari gagasan Pak Lek Imam.
Ia tidak sedang mengajak warga Kediri bernostalgia.
Ia justru sedang mengajak Kediri bercermin.
Kota ini sudah memiliki modal yang tidak sedikit: sejarah panjang, tradisi pendidikan, pesantren, kampus, generasi muda, budaya, masyarakat yang hidup berdampingan, hingga konektivitas baru.
Namun semuanya masih berupa modal.
Kalau tidak dikelola, sejarah hanya menjadi cerita.
Kalau tidak dikembangkan, kampus hanya menjadi bangunan.
Kalau bonus demografi tidak dimanfaatkan, jumlah anak muda yang besar justru bisa berubah menjadi tantangan.
Karena itu, masa depan Kediri menurut gagasan yang dibangun dalam buku tersebut bukan pekerjaan satu orang.
Bukan hanya tugas wali kota.
Bukan hanya tugas DPRD.
Bukan hanya tugas kampus.
Bukan hanya tugas pesantren.
Tetapi pekerjaan bersama seluruh warga Kediri.
“Api Ilmu” Kini Ada di Tangan Generasi Sekarang
Pak Lek Imam menutup perjalanan bukunya dengan satu gagasan sederhana tetapi menghentak.
Kisah Kediri belum selesai.
Bab berikutnya belum ditulis.
Dan siapa yang akan menulisnya?
Bukan lagi Mpu Sedah.
Bukan Mpu Panuluh.
Bukan raja-raja masa lalu.
Tetapi generasi Kediri hari ini.
Itulah mengapa kalimat “Di Mana Api Ilmu Tak Pernah Padam” tidak berhenti sebagai slogan. Dalam buku tersebut, api dimaknai sebagai Dahanapura, ilmu sebagai tradisi pengetahuan yang diwariskan lintas zaman, sedangkan “tak pernah padam” menggambarkan kemampuan tradisi tersebut bertahan dan berubah mengikuti zaman.
Dan di sinilah pesan Pak Lek Imam menjadi relevan.
Kediri tidak sedang mencari masa lalu. Kediri sedang mencari keberanian untuk menulis masa depannya sendiri.
Sejarah sudah memberikan apinya.
Generasi sekarang tinggal menentukan:
akan dibiarkan menjadi bara, atau dibesarkan menjadi kobaran?
Buku Kota Kediri: Di Mana Api Ilmu Tak Pernah Padam ditulis oleh Imam Wihdan Zarkasyi, ST., MM., dan ditutup dengan satu keyakinan: perjalanan Kediri sebagai kota pendidikan belum selesai ditulis.



