Kediri,Wnews.co.id— Suara dentakan batu domino di atas meja kayu biasanya identik dengan riuk cangkruk ronda malam atau meja warung kopi desa. Namun, di Makodim 0809/Kediri, Minggu (27/9/2026), suasana itu terasa berbeda. Lewat gelaran Turnamen Domino ORADO 101 Piala Panglima TNI, permainan kerakyatan ini mulai menanggalkan stigma “sekadar pengisi waktu luang” dan bergeser menjadi olahraga otak yang kompetitif.
Ajang yang digelar serentak di 101 kota dan kabupaten se-Indonesia ini disambut hangat oleh Pemerintah Kota Kediri. Wakil Wali Kota Kediri, KH Qowimuddin Thoha (Gus Qowim), menegaskan apresiasinya atas keterlibatan Kediri dalam perhelatan skala nasional tersebut.
”Alhamdulillah, kami di Kota Kediri menyambut baik dan antusias. Ini adalah olahraga rakyat yang sudah sangat dikenal di kampung-kampung dan desa-desa. Kami berharap turnamen ini tak sekadar jadi yang pertama lalu selesai, tetapi bisa berkelanjutan untuk melahirkan talenta-talenta domino yang luar biasa, terlebih domino kini sudah resmi masuk dalam naungan KONI,” terang Gus Qowim.
Gengsi turnamen kian terasa setelah persaingan sengit berujung pada kejutan dari wilayah selatan Kediri. Kecamatan Kras mendadak jadi sorotan usai dua tim utusannya menyapu bersih panggung juara.
Tim CARANK asal Kras keluar sebagai yang terbaik setelah tampil perkasa di partai puncak. Mereka mengunci gelar juara usai membekuk Tim Delta Polaman Tiga dari Kota Kediri dengan skor telak 2-0. Dominasi Kras kian lengkap lantaran Tim KESEL juga berhasil mengamankan tempat di podium ketiga.
Kemenangan klub-klub asal Kras ini mengisyaratkan satu hal: budaya bermain domino yang mengakar kuat di akar rumput kini mulai terarah menjadi potensi atlet lokal yang membanggakan.
Ketua ORADO Jawa Timur, Mahenda Abdillah Kamil, menilai tingginya antusiasme peserta dari berbagai pelosok menjadi sinyal positif bagi masa depan ekosistem domino di daerah.
”Saat ini ORADO sudah memiliki jaringan di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Makin banyaknya klub yang tumbuh di daerah membuat sosialisasi aturan resmi dan penjaringan atlet jadi lebih mudah,” ujar Mahenda. Ia pun optimistis Kediri kelak bisa menyumbang atlet domino potensial ke tingkat nasional.
Dandim 0809/Kediri Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah turut mengapresiasi perjalanan turnamen yang berlangsung tertib dan kondusif. Menurutnya, daya tarik utama domino justru terletak pada karakternya yang murni tumbuh dari tradisi warga.
”Ini olahraga yang murni dari masyarakat. Lewat kompetisi semacam ini, kebiasaan warga bisa kita wadahi menjadi ajang silaturahmi yang positif sekaligus berprestasi,” kata Dhavid.
Pulangnya trofi Piala Panglima TNI ke tangan warga Kras tak hanya menutup rangkaian turnamen, tetapi juga menegaskan pesan penting: meja domino tak lagi sebatas hiburan ronda malam, melainkan arena baru untuk mencetak prestasi.(*/Ade)



