SANGATTA – Galeri Arkeologi atau Galeri Budaya Kabupaten Kutai Timur mulai diperkenalkan sebagai ruang edukasi dan penelitian bagi masyarakat. Fasilitas tersebut juga berfungsi sebagai pusat informasi mengenai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Ilham, mengatakan galeri tersebut kini dapat menerima kunjungan dari sekolah, komunitas, maupun lembaga yang melakukan penelitian terkait kebudayaan.
“Kami sudah mulai membuka layanan Galeri Arkeologi kepada masyarakat. Sekolah, komunitas, atau lembaga yang melakukan riset terkait kebudayaan bisa berkunjung,” ujar Ilham, Selasa (22/9/2026).
Ia menjelaskan, galeri memiliki peran penting dalam memperkenalkan temuan arkeologi dan kekayaan budaya yang terdapat di Kutai Timur. Koleksi yang tersedia dapat menjadi sumber pembelajaran bagi pelajar maupun bahan awal bagi peneliti sebelum melakukan penelitian lapangan.
Menurutnya, galeri tersebut memiliki tiga fungsi utama, yakni penelitian, edukasi, dan pengenalan koleksi kebudayaan kepada masyarakat.
“Fungsi pertama adalah riset atau penelitian, karena di sana ada temuan-temuan yang usianya sudah sangat lama,” katanya.
Ilham mengatakan, galeri juga dapat dimanfaatkan oleh sekolah sebagai sarana pembelajaran di luar kelas. Melalui kunjungan tersebut, pelajar dapat mengenal koleksi dan memahami perbedaan jenis warisan budaya, termasuk cagar budaya benda dan takbenda.
“Fungsi kedua adalah sebagai wadah edukasi bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah bisa datang untuk melihat koleksi yang ada di galeri,” ungkapnya.
Meski fasilitasnya masih sederhana, Ilham berharap galeri dapat terus dikembangkan menjadi bagian penting dari pembangunan museum di Kutai Timur.
Ia menjelaskan, keterbatasan ruang saat ini membuat sebagian koleksi belum dapat dipamerkan secara optimal. Kehadiran museum diharapkan memberikan ruang yang lebih memadai untuk penataan, penyimpanan, dan penyajian koleksi kepada publik.
“Galeri budaya ini merupakan cikal bakal berdirinya museum. Harapan kita, koleksinya nanti bisa ditata lebih rapi,” jelasnya.
Pengembangan fasilitas tersebut diharapkan memperkuat pendidikan sejarah, mendukung penelitian kebudayaan, dan memperluas akses masyarakat terhadap informasi arkeologi Kutai Timur. (ADV/Kutim).


