Samarinda — Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur menggelar Workshop Pengembangan Kurikulum Tingkat Sekolah Dasar pada Muatan Lokal (Mulok) pada 4–7 November 2026 bertempat di Swiss-Belhotel Samarinda, sebagai bagian dari upaya revitalisasi bahasa dan sastra daerah di jenjang sekolah dasar.
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur, Mulyono, S. S.TP., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan dukungan penuh Dinas Pendidikan terhadap keberlanjutan program revitalisasi bahasa daerah sebagai bagian dari penguatan identitas pendidikan di Kutai Timur.
Kegiatan ini dilandasi tiga capaian penting: rampungnya penyusunan buku mulok Bahasa Kutai jenjang kelas 1 sampai 6, terbitnya Surat Keputusan Bupati tentang implementasi Kurikulum Muatan Lokal Bahasa Kutai di seluruh Sekolah Dasar se-Kutai Timur, serta penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada Pemkab Kutai Timur sebagai kabupaten yang berhasil merevitalisasi bahasa daerah, yakni Bahasa Melayu Kutai.
Kepala Bidang Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Slamet Riyanto, S.Pd., dalam wawancara terpisah menyampaikan bahwa: workshop ini merupakan bagian dari revitalisasi bahasa dan sastra. “Kenapa Bahasa Kutai? Karena dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” ujarnya, menegaskan dasar filosofis di balik pemilihan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal wajib.
Ia menambahkan, penyusunan kurikulum mulok dilakukan dengan memperhatikan prinsip 5W1H agar materi ajar tersusun sistematis dan aplikatif. “Salah satu tujuannya adalah pelestarian budaya Kutai Timur,” tegas Slamet.
Workshop ini turut menghadirkan tiga narasumber dari Balai Bahasa Kalimantan Timur, yaitu Aminudin Rifai, S.S., Nurul Masfufah, M.Pd., dan Yudianti Herawati, S.S., M.A., guna memastikan kesahihan akademik dan kebahasaan dokumen kurikulum yang disusun.
Tujuan utama kegiatan ini adalah menyusun dokumen Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Bahasa Kutai yang dapat diterapkan di seluruh Sekolah Dasar se-Kabupaten Kutai Timur, sekaligus meneruskan Program Revitalisasi Bahasa Daerah di wilayah tersebut. Workshop yang berlangsung selama empat hari ini diikuti 135 peserta, terdiri atas Tim Penyusun Buku Mulok SD kelas 1–6 dan Koordinator Kurikulum perwakilan sekolah dasar se-Kutai Timur.
Kegiatan resmi ditutup oleh Kepala Bidang Dikdas, Slamet Riyanto, S.Pd., yang dalam sambutan penutupannya kembali menegaskan tiga gatra utama bahasa sebagai prinsip bersama: mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. “Ketiganya harus berjalan seimbang, agar anak-anak kita tetap berakar pada budaya sendiri, namun siap bersaing secara global,” pungkasnya.
Workshop ini menjadi penegasan bahwa pelestarian bahasa daerah bukan sekadar wacana seremonial, melainkan kebijakan nyata yang dirumuskan secara sistematis dan berkelanjutan — langkah konkret Kutai Timur menjaga akar budaya di tengah derasnya arus globalisasi.


