TENGGARONG – Penanganan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai diarahkan lebih jauh ke tahap pencegahan. Pemerintah daerah tidak hanya mengejar penanganan anak yang sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi berupaya memutus risiko sejak sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan pendekatan tersebut dilakukan karena persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan intervensi ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan.
“Yang lebih penting itu mencegah terjadi stunting. Kalau sudah kena stunting, pemberian makanan tambahan mungkin akan bisa berhasil, tapi sebenarnya kesempatan emasnya itu sebelum itu terjadi,” ujar Ismi, Sabtu (3/10/2026).
Salah satu sasaran pencegahan adalah remaja putri. Dinkes Kukar memberikan tablet tambah darah kepada siswi SMP dan SMA sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi kesehatan dan mencegah anemia.
Intervensi kemudian dilanjutkan kepada calon pengantin melalui edukasi mengenai kesiapan kesehatan sebelum memasuki masa kehamilan.
Menurut Ismi, perhatian terhadap kesehatan calon ibu menjadi penting karena kondisi perempuan sebelum hamil turut berkaitan dengan proses kehamilan dan pertumbuhan janin.
“Upayanya banyak. Tidak hanya pada kasus yang sudah stunting, tapi kita lebih pada upaya mencegah,” katanya.
Angka Turun, Pemantauan Belum Berhenti
Di tengah strategi pencegahan tersebut, angka stunting Kukar pada September 2026 tercatat 12,6 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di kisaran 14 persen.
Namun, Dinkes Kukar belum menjadikan angka tersebut sebagai hasil akhir. Pemantauan tetap dilakukan secara rutin karena jumlah kasus dapat berubah mengikuti hasil pengukuran di lapangan.
Ismi menyebut terdapat sekitar 0,8 persen kasus baru dari angka yang tercatat. Sementara anak yang sebelumnya telah teridentifikasi tetap masuk dalam pemantauan dan memperoleh intervensi sesuai kondisinya.
“ Kita selalu melakukan pengukuran setiap bulan supaya pergerakannya kelihatan. Mana misalnya yang masih waspada, masih merah, nantinya masih tinggi, itu kita intervensi. Jadi nanti di Desember baru kelihatan totalnya,” jelasnya.
Bagi Dinkes, angka tersebut bukan sekadar statistik. Data bulanan digunakan untuk melihat perkembangan setiap anak sekaligus menentukan langkah yang diperlukan.
Posyandu Jadi Garda Pemantauan
Pemantauan pertumbuhan dilakukan melalui pengukuran berat badan serta tinggi atau panjang badan bayi dan balita.
Kegiatan tersebut banyak dilakukan secara serentak melalui posyandu.
Selain posyandu, pemeriksaan juga dapat dilakukan di puskesmas ketika orang tua membawa anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Ismi menjelaskan, kondisi stunting tidak ditentukan hanya berdasarkan penampilan fisik anak. Hasil pengukuran tinggi atau panjang badan kemudian dilihat berdasarkan umur dan standar pertumbuhan anak.
“Yang dicek pasti angka pertumbuhan dan perkembangannya. Makanya untuk melakukan pengukuran stunting kita lakukan pengukuran secara serentak,” ungkapnya.
Data dari pengukuran tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk mengidentifikasi anak yang pertumbuhannya mulai membutuhkan perhatian. Dengan demikian, intervensi dapat diberikan sedini mungkin.
Ibu Hamil dengan Risiko Turut Diintervensi
Pencegahan juga berlanjut pada masa kehamilan. Dinkes Kukar memberikan perhatian kepada ibu hamil yang mengalami kurang energi kronis maupun kondisi lain yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Salah satu bentuk intervensi yang diberikan adalah makanan tambahan. Program tersebut ditujukan untuk membantu memperbaiki kondisi kesehatan ibu sehingga kebutuhan pertumbuhan janin dapat terpenuhi.
Bagi pemerintah daerah, penanganan stunting dengan demikian tidak berhenti pada anak yang telah masuk kategori stunting. Rantai pencegahan dibangun mulai dari remaja putri, calon pengantin, ibu hamil hingga pemantauan bayi dan balita.
Ismi menegaskan, konsistensi pengukuran menjadi bagian penting untuk mengetahui apakah berbagai intervensi yang dilakukan benar-benar mampu mengubah kondisi di lapangan.
Hasil pemantauan hingga akhir tahun nantinya akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan stunting di Kukar sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. (ADV/Kukar/Diskominfo/Ndy).



