Ads

Puskesmas Sukodono Gerak Cepat Tangani Dua Balita Gizi Buruk

Sidoarjo – “Tak tinggal diam” menjadi sikap yang ditunjukkan Puskesmas Sukodono setelah menerima informasi mengenai dua balita yang mengalami persoalan gizi di Dusun Kesemen, Desa Cangkringsari, Kecamatan Sukodono. Seorang bayi berusia tujuh bulan diketahui mengalami gizi buruk dan stunting, sedangkan kakaknya yang berusia dua tahun juga mengalami kekurangan gizi dan membutuhkan perhatian khusus.

Kondisi kedua bersaudara itu menjadi semakin berat setelah ibu mereka, almarhumah Ester D. Apsari, meninggal dunia. Kedua anak kini tinggal dan diasuh oleh kakek serta neneknya di Dusun Kesemen. Almarhumah diketahui merupakan warga Desa Sambungrejo, Dusun Semambung, dan menurut keluarga meninggal setelah mengalami penyakit jantung, sesak napas serta gangguan lambung.

Informasi mengenai kondisi kedua balita tersebut kemudian diterima Puskesmas Sukodono. Tenaga kesehatan langsung melakukan penelusuran untuk memastikan keadaan kedua anak sekaligus menentukan bentuk penanganan yang dibutuhkan. Kepala Puskesmas Sukodono dr. Prufiana, M.M., bersama tenaga kesehatan selanjutnya turun langsung pada Selasa (1/9/2026) untuk melihat kondisi anak sekaligus memberikan dukungan terhadap keluarga yang mengasuh mereka.

Dalam kunjungan tersebut, petugas melakukan pemeriksaan, penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan guna mengetahui status pertumbuhan serta kondisi gizi kedua balita. Hasil pengukuran itu selanjutnya dicocokkan dengan catatan pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak atau KIA sebagai dasar penanganan medis.

Petugas juga memberikan edukasi kepada keluarga terkait kebutuhan gizi, pola makan, pola pengasuhan serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Selain penanganan awal, Puskesmas Sukodono menyiapkan pemantauan lanjutan sesuai kondisi masing-masing balita.

Kaur Kesra Desa Cangkringsari, Abdul Hadi, mengatakan pemerintah desa baru mengetahui keberadaan dan kondisi kedua anak itu sehari sebelumnya. Setelah menerima informasi, pemerintah desa langsung memberikan dukungan terhadap langkah Puskesmas Sukodono.

“Yang bersangkutan baru saya tahu kemarin bersama neneknya ada di Desa Cangkringsari. Kami mendukung langkah Dinas melalui Puskesmas Sukodono, khususnya Ibu Kapus dan jajaran nakes, untuk perkembangan dan penanganan lanjutan,” kata Abdul Hadi kepada wartawan.

Dukungan dari pemerintah desa dinilai penting karena kedua anak telah tinggal di wilayah Cangkringsari meskipun administrasi kependudukan mereka masih perlu diperjelas. Koordinasi lintas pihak terus dilakukan agar persoalan administratif tidak menghambat penanganan kesehatan.

Soemarni (62), nenek kedua balita, mengaku bersyukur karena kondisi cucunya mendapat perhatian dari tenaga kesehatan dan pemerintah desa. Setelah sang ibu meninggal, tanggung jawab pengasuhan kedua anak kini berada di tangannya.

“Saya sangat berterima kasih atas perhatian Bu Kapus, Bu Bidan, Pemdes setempat dan semuanya, atas bantuan dan penanganannya untuk perkembangan kesehatan cucu saya,” ungkap sang nenek.

Petugas gizi Puskesmas Sukodono, Dana, menjelaskan bahwa setiap temuan masalah gizi ditindaklanjuti melalui kunjungan rumah. Petugas kemudian melakukan pengukuran berat dan tinggi badan serta membandingkannya dengan catatan pertumbuhan dalam Buku KIA.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, salah satu anak diketahui memiliki berat badan sangat kurang, mengalami gizi buruk dan memiliki tinggi badan yang masuk kategori sangat pendek. Kondisi itulah yang menjadi dasar perlunya penanganan lebih intensif.

“Pengasuh juga diberikan edukasi mengenai pola makan, kebutuhan gizi anak serta faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pertumbuhan,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Sukodono dr. Prufiana menjelaskan pihaknya segera berkoordinasi setelah memperoleh informasi awal pada Sabtu. Bidan dan petugas gizi langsung diterjunkan untuk menelusuri keberadaan kedua balita sekaligus memastikan kondisi mereka.

“Yang jelas pertama saya koordinasi. Setelah mendapatkan berita itu hari Sabtu, staf kami, bidan, kemudian gizi, langsung bergerak ke lapangan, menelusuri apakah memang betul ada nama tersebut. Kemudian ternyata memang betul dan diukur berat badannya,” jelasnya.

Upaya penelusuran tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Petugas sempat dua kali datang sebelum akhirnya berhasil bertemu dengan kedua balita menjelang siang.

“Waktu itu belum ketemu sampai dua kali ke sana. Menjelang siang itu baru ketemu dengan anak-anak yang bersangkutan, kemudian ditimbang dan dilaporkan kepada saya,” terangnya.

Menurut dr. Prufiana, informasi awal mengenai kondisi kedua balita berasal dari jalur informal. Setelah informasi diterima, puskesmas segera melakukan koordinasi, termasuk menyampaikan persoalan tersebut kepada Camat Sukodono sebagai pemangku wilayah.

“Sebelumnya dari informal yang memberitahu kami, dapat kasus. Akhirnya kami koordinasi. Kemudian saya matur ke Bu Camat karena sebagai pemangku wilayah beliau harus perso,” ujarnya.

Camat Sukodono kemudian ikut menghubungi Pemerintah Desa Cangkringsari agar kedua anak mendapatkan perhatian. Langkah tersebut dilakukan meskipun secara administrasi kependudukan mereka bukan tercatat sebagai warga setempat.

“Kemudian Bu Camat respons juga, malah Bu Camat telepon ke Pemerintah Desa Cangkringsari bahwa meskipun itu bukan warganya, tetapi sudah berdomisili lama. Kemudian posyandu ini mau hadir, neneknya membawa cucu-cucunya, dan kami tindaklanjuti,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan awal, kedua anak dinilai sama-sama membutuhkan penanganan khusus. Untuk bayi berusia tujuh bulan, puskesmas memutuskan melakukan rujukan ke dokter spesialis anak sembari menunggu kejelasan Nomor Induk Kependudukan dan administrasi lainnya.

“Pertama ada dua. Satu, si kecil yang berumur tujuh bulan itu nanti sambil menunggu NIK,dan kependudukannya jelas, juga ibundanya baru saja meninggal,kami tidak tinggal diam. Kami rujukkan langsung ke spesialis anak terdekat karena ada terapi khusus dalam bentuk susu, tetapi susu khusus untuk penderita gizi buruk dan stunting di bawah usia dua tahun,” ujarnya.

Sementara untuk kakaknya yang berusia dua tahun, Puskesmas Sukodono akan memberikan bantuan susu sementara. Dukungan tersebut diberikan sambil menunggu penyelesaian administrasi kependudukan sehingga penanganan berikutnya bisa berjalan lebih terarah.

“Intinya untuk dua-duanya bisa nututi, supaya tidak jadi stunting, jadi pertumbuhannya bisa bagus. Terutama yang tujuh bulan ini, kalau dirawat atau mendapatkan asupan gizi yang cukup dan baik, insyaallah pertumbuhannya bisa bagus,” katanya.

Dr. Prufiana menilai kondisi gizi buruk pada bayi tersebut telah berlangsung cukup lama. Keterlambatan penanganan kemudian berdampak pada pertumbuhan hingga anak mengalami stunting. Karena itu, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

“Anak ini sudah mengalami gizi buruk yang cukup lama, telat penanganannya akhirnya menjadi stunting. Memperbaiki gizinya dulu, yakin karena support dari neneknya. Saya mengharap keluarga mensupport, mendukung langkah-langkah yang sudah kami berikan,” pungkas dr. Prufiana.

Penanganan dua balita di Cangkringsari kini terus dilakukan dengan melibatkan puskesmas, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan keluarga. Pemenuhan asupan gizi, pemeriksaan rutin, pendampingan keluarga serta penyelesaian administrasi kependudukan diharapkan dapat membantu kedua anak mengejar pertumbuhan dan memperoleh kondisi kesehatan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *