Kukar – Program Keluarga Berencana (KB) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, menunjukkan tren positif. Jumlah peserta KB aktif meningkat dari 77.096 akseptor pada 2025 menjadi 88.556 akseptor hingga akhir September 2026.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu capaian yang mendapat apresiasi dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kukar. Namun, keberhasilan program KB dinilai tidak cukup hanya diukur melalui pertambahan jumlah peserta, melainkan juga dari manfaatnya bagi kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Sekretaris DP2KB Kukar, Sri Lindawati, menyampaikan apresiasi atas perkembangan capaian program KB tersebut. Ia menilai peningkatan jumlah peserta perlu diikuti dengan upaya menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Ini tentu menjadi capaian yang patut kita apresiasi. Tetapi saya ingin mengingatkan, jangan berhenti pada angka. Di balik setiap angka akseptor, ada seorang ibu. Ada seorang ayah. Ada anak-anak. Ada sebuah keluarga. Dan ada masa depan yang sedang kita persiapkan,” ujar Sri Lindawati.
Selain jumlah peserta KB aktif, penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) di Kukar juga mengalami peningkatan.
Pada 2025, peserta KB yang menggunakan metode MKJP tercatat sebanyak 15.220 akseptor atau 19,74 persen. Sementara itu, hingga akhir September 2026, jumlahnya meningkat menjadi 19.079 akseptor atau 21,54 persen.
MKJP merupakan metode kontrasepsi yang memberikan perlindungan dalam jangka waktu relatif panjang. Penggunaannya menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pelaksanaan program KB, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan, kondisi kesehatan, dan pilihan setiap peserta.
Peningkatan jumlah pengguna MKJP tersebut menunjukkan adanya perkembangan dalam pemanfaatan metode kontrasepsi jangka panjang di Kukar. Meski demikian, perluasan akses informasi dan pelayanan tetap diperlukan agar masyarakat dapat menentukan metode kontrasepsi sesuai kebutuhan.
Perkembangan positif juga terlihat dari penurunan angka unmet need atau kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi.
Berdasarkan data yang disampaikan Sri Lindawati, angka unmet need di Kukar tercatat sebesar 4,98 persen pada 2025. Angka tersebut kemudian turun menjadi 2,92 persen hingga September 2026.
Penurunan ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi pelaksanaan program KB. Pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kontrasepsi menjadi bagian penting agar pasangan usia subur dapat merencanakan kehamilan sesuai dengan kondisi dan tujuan keluarga.
Di sisi lain, capaian tersebut juga perlu diiringi dengan edukasi yang berkelanjutan, ketersediaan layanan, serta pendampingan bagi masyarakat. Dengan demikian, program KB tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh informasi yang memadai sebelum menentukan pilihan kontrasepsi.
Kualitas Pelayanan Tetap Menjadi Perhatian
Bagi DP2KB Kukar, peningkatan jumlah peserta KB aktif merupakan bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih terencana.
Program ini berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan ibu, pengaturan jarak kehamilan, perhatian terhadap tumbuh kembang anak, hingga kesiapan keluarga dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Karena itu, capaian angka akseptor perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan dan pemahaman masyarakat mengenai keluarga berencana.
Pesan Sri Lindawati menjadi pengingat bahwa keberhasilan program KB tidak semata-mata dilihat dari statistik. Di balik pertambahan jumlah peserta dan peningkatan penggunaan kontrasepsi jangka panjang, terdapat kebutuhan keluarga yang harus dipahami dan dilayani.
Dengan jumlah peserta KB aktif yang mencapai 88.556 akseptor hingga September 2026, keberlanjutan program KB di Kukar menjadi penting untuk memastikan layanan keluarga berencana dapat menjangkau masyarakat secara luas dan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, program KB bukan hanya tentang mengatur jumlah kelahiran, tetapi juga membantu keluarga merencanakan masa depan yang lebih sehat dan sejahtera. (ADV/Kukar).



