Ads
Ads

Bukan Sekadar Pelatihan, Disnakertrans Kukar Siapkan Warga Desa Jadi Pengusaha

TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mendorong masyarakat desa untuk membangun sumber penghasilan melalui usaha mandiri. Upaya itu dilakukan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kukar melalui program tenaga kerja mandiri yang menyasar masyarakat usia produktif.

Program tersebut tidak diarahkan untuk mencetak calon pekerja di perusahaan, melainkan membekali masyarakat agar mampu membuka dan mengembangkan usaha sendiri, terutama di sektor informal.

Salah satu pelaksanaannya berlangsung di Desa Sebemban, Kecamatan Muara Wis. Sebanyak 10 anggota kelompok tenaga kerja mandiri mengikuti pelatihan keterampilan perbengkelan selama lima hari yang digelar beberapa hari yang lalu.

Peserta program berasal dari kelompok masyarakat yang masuk kategori desil 1 hingga 5, yakni kelompok masyarakat yang secara ekonomi masih tergolong rentan.

Kepala Disnakertrans Kukar, Dendy Irwan Fahriza, mengatakan pendekatan program tenaga kerja mandiri berbeda dengan pelatihan keterampilan yang selama ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja formal.

“Segmen yang kami sasar adalah sektor informal. Kalau pelatihan unit kompetensi yang sebelumnya, kami menyasar sektor formal atau calon karyawan. Kalau ini tujuannya menciptakan wirausaha mandiri,” kata Dendy, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, peserta tidak hanya diberikan pengetahuan dan keterampilan teknis. Pemerintah juga memberikan dukungan berupa peralatan yang dapat digunakan sebagai modal awal untuk menjalankan usaha perbengkelan.

Sejumlah peralatan yang diserahkan antara lain mesin kompresor, mesin pembuka ban, mesin bor duduk, mesin bor gantung, toolkit box serta perlengkapan pendukung lainnya.

“Selain memberikan pembekalan dan pelatihan keterampilan selama lima hari, kami juga menyerahkan bantuan alat perbengkelan. Harapannya bisa dimanfaatkan untuk usaha mandiri kelompok tenaga kerja mandiri,” ujarnya.

Dendy menegaskan bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas pascapelatihan. Peralatan yang diterima kelompok diharapkan benar-benar digunakan untuk membuka layanan perbengkelan dan menghasilkan pendapatan bagi anggota.

Untuk memastikan keberlanjutan program, Disnakertrans Kukar akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kelompok penerima bantuan. Pemantauan dijadwalkan pada bulan ketiga atau keempat setelah bantuan diserahkan.

“Monitoring dan evaluasi akan kami lakukan pada bulan ketiga atau keempat. Kami ingin memastikan usaha masih berjalan, alatnya masih ada, kemudian mereka melaporkan kendala dan hambatan yang dihadapi,” jelas Dendy.

Ia menyebut masa tersebut menjadi salah satu periode penting bagi keberlangsungan usaha. Kelompok penerima bantuan biasanya mulai menghadapi kebutuhan tambahan modal ketika usaha memasuki tahap pengembangan.

“Karena ini bulan-bulan krusial, apakah usahanya mau dilanjutkan atau alat usahanya dijual karena keterbatasan modal,” katanya.

Karena itu, Disnakertrans Kukar berencana menghubungkan kelompok penerima program dengan fasilitas pembiayaan melalui program Kredit Kukar Idaman Terbaik.

Program tersebut menawarkan fasilitas kredit dengan bunga 0 persen yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif tambahan modal bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha.

Selain Desa Sebemban, program tenaga kerja mandiri juga direncanakan menyasar enam desa lainnya di Kabupaten Kukar.

Melalui skema pelatihan, bantuan peralatan, pendampingan, hingga akses permodalan tersebut, Disnakertrans Kukar berharap masyarakat desa tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu mengubah keterampilan tersebut menjadi usaha yang berkelanjutan. (Adv/Kukar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *