Kutim – Ruang digital diibaratkan seperti “warung tanpa batas”, tempat percakapan kecil bisa berubah menjadi gelombang besar yang memengaruhi jutaan orang. Pesan itu disampaikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman usai memimpin peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 di lapangan Kantor Bupati Kutim, Rabu (20/5/2026).
Dalam keterangannya, Ardiansyah menilai tema Harkitnas tahun ini sangat relevan dengan tantangan bangsa saat ini, terutama dalam menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital. Ia menegaskan masyarakat harus semakin selektif menyaring informasi yang beredar, sebab tidak semua berita membawa dampak positif bagi kehidupan sosial.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi membuat masyarakat kerap sulit membedakan mana informasi yang benar-benar membangun semangat kebangsaan dan mana yang justru berpotensi mengintervensi pola pikir masyarakat. Kondisi itu dinilai menjadi tantangan tersendiri, terlebih di tengah derasnya penyebaran informasi melalui media digital.
“Terkait dengan berita-berita yang berada di mana-mana ini memang harus selektif betul. Kadang sulit kita melihat mana berita yang memberikan semangat atau mana yang mengintervensi,” ujar Ardiansyah Sulaiman.
Ia juga menyoroti kebijakan pembatasan akses ruang digital bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun yang dinilai sebagai langkah penting untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif platform digital. Menurutnya, anak-anak harus diarahkan agar tidak terlalu dini terpapar ruang digital dengan pengaruh besar yang belum tentu sesuai dengan usia tumbuh kembang mereka.
“Tadi sudah diberi pesan, di bawah 16 tahun itu memang diharapkan untuk tidak bermain di wilayah digital yang memiliki platform tinggi,” katanya.
Bupati Kutim turut mengingatkan aparatur sipil negara (ASN) serta masyarakat umum agar memanfaatkan media digital secara bijaksana. Ia menegaskan pemerintah tidak melarang masyarakat menggunakan platform digital, namun penggunaan ruang virtual harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
“Saya tidak ingin mengatakan tidak boleh, tapi bijaksana lah. Kalau ngerumpi di warung itu yang dengar mungkin 10 sampai 20 orang, tapi kalau di wilayah digital itu jutaan orang yang mendengar,” ucapnya.
Ardiansyah mengingatkan bahwa informasi yang memicu emosi dapat berdampak luas dan menyeret banyak orang dalam konflik persepsi. Karena itu, literasi digital dan pengendalian diri menjadi aspek penting yang harus diperkuat di tengah perkembangan teknologi komunikasi saat ini.
Selain itu, ia juga mengapresiasi peran insan pers yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam mendukung pembangunan daerah melalui pemberitaan yang informatif dan mendidik masyarakat.
Peringatan Harkitnas 2026 di Kutai Timur bukan hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam menggunakan ruang digital. Di tengah derasnya informasi, masyarakat dituntut tetap kritis, selektif, dan menjaga ruang publik digital tetap sehat.



