Ads

Bupati Ardiansyah Dukung Penguatan Jejaring Layanan Jantung

Kutim – Seperti denyut yang tak pernah berhenti, upaya memperkuat layanan kesehatan jantung di Kalimantan Timur terus bergerak. Di tengah tingginya kasus penyakit kardiovaskular, pemerintah pusat dan daerah membangun jejaring pelayanan yang diharapkan mampu menghadirkan layanan lebih dekat bagi masyarakat.

Dukungan itu disampaikan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) jejaring pengampuan layanan jantung dan pembuluh darah antara Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, serta 11 rumah sakit kabupaten dan kota se-Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur, Jumat (19/6/2026).

Menurut Ardiansyah, program penguatan layanan jantung merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keberadaan jejaring pengampuan nasional diyakini mampu memperkuat kapasitas rumah sakit daerah, terutama dalam penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Program ini sangat dibutuhkan. Pemerintah memberikan perhatian besar terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah, sehingga rumah sakit di Indonesia terus dilengkapi agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Ardiansyah.

Ia menilai program pengampuan yang dijalankan Kementerian Kesehatan menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kualitas rumah sakit daerah melalui transfer pengetahuan, pendampingan tenaga kesehatan, serta penguatan tata kelola pelayanan.

“Program pengampuan ini sebagai solusi tepat untuk memperkuat kapasitas rumah sakit daerah melalui transfer pengetahuan dan pendampingan SDM,” katanya.

Menurut Ardiansyah, keberadaan program tersebut membuat RSUD Kudungga tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat pengembangan kompetensi tenaga medis di daerah. Pendampingan dari rumah sakit pengampu akan memberikan dukungan dari sisi sumber daya manusia, teknologi kesehatan, hingga sistem pelayanan.

Ia mengungkapkan, pemerintah pusat menargetkan terbentuknya 400 anggota jejaring layanan jantung secara nasional. Saat ini, sebanyak 39 rumah sakit telah tergabung dalam jaringan tersebut dan jumlahnya akan terus bertambah secara bertahap dalam lima tahun mendatang.

“Targetnya 400 anggota jejaring. Sekarang sudah ada 39, dan ini akan terus bergerak sampai lima tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jantung di berbagai daerah,” jelasnya.

Dari sisi sumber daya manusia, Ardiansyah menyebut penguatan tenaga dokter spesialis jantung di Kutai Timur juga terus dilakukan. Saat ini telah tersedia dua dokter spesialis jantung dan jumlah tersebut akan bertambah menjadi tiga orang. Bahkan, peluang penambahan tenaga spesialis lainnya masih terbuka.

“Sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Saat ini sudah ada dua spesialis jantung, nanti menjadi tiga, dan kemungkinan akan bertambah lagi satu spesialis,” ungkapnya.

Ia menambahkan, program pengampuan nasional dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita akan diterapkan di Kalimantan Timur sebagai bagian dari jejaring nasional. Dengan demikian, pelayanan kesehatan jantung di daerah dapat semakin berkembang dan menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Kalimantan Timur termasuk dalam penguatan jejaring ini. Harapannya pelayanan jantung bisa semakin dekat dengan masyarakat, sehingga warga tidak perlu selalu dirujuk jauh untuk mendapatkan penanganan,” tuturnya.

Ardiansyah juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur yang telah mempercayakan Kabupaten Kutai Timur sebagai tuan rumah pelaksanaan penandatanganan kerja sama jejaring pengampuan kardiovaskular tingkat provinsi.

Diketahui, RSUD Kudungga menjadi salah satu dari 39 rumah sakit di Indonesia yang masuk dalam jejaring layanan diagnostik inovatif dan intervensi nonbedah bagi pasien jantung. Melalui sistem pengampuan nasional tersebut, pemerataan layanan kesehatan diharapkan semakin terwujud, sehingga masyarakat Kalimantan Timur tidak lagi bergantung pada fasilitas kesehatan di luar daerah untuk memperoleh penanganan penyakit jantung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *