Kutim – Keterbatasan ruang pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) perlahan berupaya diurai melalui pembangunan fasilitas tambahan. Pengembangan sarana tersebut diharapkan membuka ruang bagi penyelenggaraan lebih banyak kelas keterampilan bagi masyarakat.
Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kutim Sulisman mengatakan pembangunan fasilitas BLK mendapatkan dukungan dari perangkat daerah yang menangani pekerjaan umum. Pekerjaan pembangunan saat ini belum rampung dan telah memasuki tahap kedua.
“Kalau untuk fasilitas tempat, itu ya kita kan dibantu oleh PU. Pembangunan yang di belakang itu kan belum selesai, baru tahap kedua. Tahun ini tahap kedua multiyears-nya,” kata Sulisman saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2026).
Pembangunan tersebut menjadi penting karena fasilitas BLK yang digunakan saat ini masih memiliki keterbatasan kapasitas. Bertambahnya ruang nantinya memungkinkan penyelenggara membuka lebih banyak kelas secara bersamaan.
“Kalau itu sudah selesai mungkin cukup untuk menampung beberapa kelas lagi tambahannya. Saat ini kan terbatas,” ujarnya.
Kapasitas ruangan menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan pelatihan. Selain membutuhkan ruang teori, sejumlah jurusan memerlukan tempat praktik dan fasilitas pendukung agar peserta dapat menguasai keterampilan secara langsung.
Saat ini BLK Kutim memiliki instruktur pada 12 bidang pelatihan. Sejumlah keterampilan yang diselenggarakan berkaitan dengan kebutuhan industri maupun pekerjaan jasa yang dapat menjadi modal masyarakat memasuki dunia kerja.
Pada periode pelatihan terbaru, empat bidang kembali dibuka, yakni mekanik alat berat, menjahit pakaian wanita dewasa, pengelolaan administrasi perkantoran, serta teknisi AC. Masing-masing bidang menyediakan kuota sebanyak 16 peserta.
Pengembangan gedung diharapkan memberikan tambahan kapasitas sehingga pelatihan tidak terlalu dibatasi oleh ketersediaan ruangan. Dengan fasilitas yang lebih luas, peluang untuk menyelenggarakan beberapa kelas tambahan juga semakin terbuka.
Namun, peningkatan kapasitas fisik tetap perlu berjalan beriringan dengan ketersediaan tenaga pengajar. Sulisman mengakui jumlah instruktur pada sejumlah jurusan masih terbatas karena beberapa bidang hanya memiliki satu tenaga pengajar.
Idealnya, menurut dia, setiap jurusan memiliki sedikitnya dua instruktur. Keseimbangan antara penambahan fasilitas dan tenaga pengajar akan menentukan seberapa besar kapasitas pelatihan dapat ditingkatkan.
Pengembangan BLK menjadi salah satu instrumen pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. Melalui fasilitas yang semakin memadai, pencari kerja diharapkan memperoleh lebih banyak kesempatan mengikuti pelatihan sebelum memasuki pasar kerja.
Distransnaker Kutim berharap penyelesaian pembangunan fasilitas tambahan dapat meningkatkan daya tampung BLK. Dengan ruang yang lebih luas, program pelatihan keterampilan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan semakin disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja di Kutai Timur. (ADV).



