Bontang — Kartu Identitas Anak (KIA) tak lagi dipandang sekadar sebagai dokumen kependudukan. Di Kota Bontang, Disdukcapil terus mendorong pemanfaatan KIA sekaligus menggandeng pelaku UMKM agar anak-anak dan orang tua semakin tertarik memiliki kartu identitas tersebut.
Kepala Disdukcapil Kota Bontang Budiman melalui Kabid Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) dan Pemanfaatan Data, Muhammad Thamrin, mengatakan KIA merupakan identitas resmi bagi anak yang belum berusia 17 tahun.
“KIA ini adalah identitas anak yang belum berusia 17 tahun. Kalau sudah 17 tahun, identitasnya menggunakan KTP elektronik,” kata Thamrin.
KIA diperuntukkan bagi anak usia 0 hingga 16 tahun. Untuk anak usia 0 sampai 5 tahun, KIA diterbitkan tanpa foto. Sementara anak berusia di atas 5 tahun hingga sebelum 17 tahun mendapatkan KIA yang dilengkapi foto.
Menurut Thamrin, kepemilikan KIA penting agar anak memiliki identitas sendiri dan tidak selalu bergantung pada dokumen milik orang tua.
Untuk memperluas cakupan kepemilikan KIA, Disdukcapil Bontang juga aktif melakukan pelayanan jemput bola ke berbagai sekolah, mulai dari playgroup, TK hingga SD.
Pelayanan serupa turut dilakukan saat terdapat kegiatan atau event yang melibatkan anak-anak, termasuk kegiatan memperingati Hari Anak.
Namun, Disdukcapil tidak berhenti pada pelayanan administrasi. Inovasi Saskia Hebat itu adalah semua anak senang dengan kartu identitas anak, hak akses biodata aman terlindungi, turut dikembangkan dengan menggandeng sejumlah pelaku UMKM di Kota Bontang.
Thamrin menjelaskan, melalui kerja sama tersebut, anak-anak yang memiliki KIA bisa memperoleh berbagai keuntungan berupa potongan harga di sejumlah tempat usaha yang telah bekerja sama dengan Disdukcapil.
Salah satu contohnya adalah kerja sama dengan manajemen Kenari Waterpark.
“Anak-anak yang menunjukkan KIA pada saat masuk di Kenari bisa mendapatkan diskon. Misalnya harga masuk Rp30 ribu, dengan menunjukkan KIA bisa menjadi Rp20 ribu. Itu sudah kita atur dalam perjanjian kerja sama,” jelasnya.
Kerja sama serupa juga dilakukan dengan sejumlah pelaku usaha lainnya, seperti Andika Baby Shop dan tempat makanan Mixuel. Bentuk diskon maupun ketentuannya disesuaikan dengan perjanjian kerja sama masing-masing UMKM.
Bahkan, Disdukcapil juga menggandeng toko buku Azis dengan program potongan harga untuk kebutuhan buku-buku perlengkapan sekolah.
Thamrin mengatakan konsep tersebut dibuat agar kepemilikan KIA memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus membantu memperkenalkan dan mendorong UMKM lokal.
“Bagaimana kita bekerja sama untuk meningkatkan UMKM, mereka juga membantu kita supaya anak-anak semangat membuat KIA. Dengan adanya diskon, orang tua juga semakin semangat,” ujarnya.
Melalui Saskia Hebat, Disdukcapil Bontang berupaya menjadikan KIA bukan hanya sebagai dokumen identitas anak, tetapi juga bagian dari ekosistem pelayanan yang memberikan manfaat bagi keluarga sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan pelaku UMKM. (ADV).



