TENGGARONG – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi mulai mendapatkan perhatian serius dari sisi kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan Kukar meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri menyusul kondisi kabut asap yang masih berubah-ubah.
Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Muffidah, mengatakan Pemkab Kukar telah menerbitkan surat edaran mengenai kewaspadaan kesehatan sebagai dampak karhutla.
“Kondisi asap memang masih naik-turun. Kadang terlihat menurun, kemudian kembali tebal. Jadi kalau tidak ada keperluan yang mendesak sebaiknya tidak terlalu sering berada di luar rumah,” kata Ismi saat diwawancarai awak media.
Kewaspadaan tersebut cukup beralasan. Data terbaru Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan Kukar menjadi kabupaten dengan luasan wilayah terdampak karhutla terbesar di provinsi tersebut.
Berdasarkan pembaruan BPBD Kaltim secara kumulatif hingga 21 September 2026, tercatat sekitar 1.470 kejadian kebakaran dengan total luasan sekitar 6.333 hektare di Kaltim. Dari jumlah tersebut, wilayah terdampak di Kukar mencapai sekitar 2.026 hektare, menjadi yang terbesar di antara kabupaten/kota di Kaltim.
Sebelumnya, pemantauan Pusdalops BPBD Kaltim selama 1 hingga 26 Agustus 2026 juga mencatat 14.795 hotspot di seluruh Kaltim. Sebanyak 2.426 titik di antaranya terdeteksi di Kutai Kartanegara.
Besarnya ancaman karhutla tersebut turut beriringan dengan peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan.
Ismi menyebut jumlah kasus ISPA di Kukar pada Agustus berada di kisaran 9 ribu kasus. Pada September jumlahnya meningkat menjadi sekitar 10 ribu.
“Secara kasus ISPA memang meningkat cukup signifikan, terutama setiap Agustus sampai September,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Selain mengurangi paparan asap, Dinkes mengingatkan masyarakat menjaga kecukupan cairan karena kondisi cuaca yang panas berpotensi menyebabkan kekurangan cairan.
Pemprov Kaltim juga masih menerapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, Kebakaran Hutan dan Lahan serta Asap Akibat Karhutla hingga 30 November 2026.
Sementara BMKG dalam prakiraan periode 2–8 Oktober 2026 menyatakan kondisi atmosfer masih relatif kering di sebagian wilayah dan dapat berimplikasi terhadap tingginya jumlah titik panas.
Dinkes Kukar berharap perlindungan kesehatan berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran di lapangan.
Selama risiko karhutla dan kabut asap masih berlangsung, masyarakat diminta tidak mengabaikan penggunaan masker maupun gejala gangguan pernapasan yang muncul. (ADV/Kukar/Diskominfo/Ndy).
Karhutla Kukar Terluas di Kaltim, Dinkes Perkuat Imbauan Perlindungan Kesehatan



