Ads
Ads

Ronny Bonar Ingatkan PWI Kutim Jaga Akurasi di Era AI

Kutim – Di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), akurasi berita menjadi benteng utama dalam menjaga kepercayaan publik. Pesan tersebut ditegaskan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Ronny Bonar Hamonangan Siburian, saat membuka Konferensi Kabupaten (Konferkab) III Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutim.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Damar, Gedung Serbaguna (GSG) Bukit Pelangi, Sangatta, Sabtu (10/10/2026), tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi wartawan dalam memperkuat profesionalisme sekaligus menentukan kepemimpinan baru periode 2026–2029. Ronny hadir mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman untuk membuka agenda tiga tahunan yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pengurus PWI Kalimantan Timur, serta puluhan insan pers.

Dalam sambutan Bupati Kutim yang dibacakannya, Ronny menyoroti perubahan besar dalam dunia jurnalistik akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi insan pers semakin kompleks karena kecepatan penyebaran informasi kini harus diimbangi dengan ketelitian dalam memastikan kebenaran setiap berita.

“Tantangan jurnalistik saat ini bukan lagi sekadar adu cepat menyebarkan informasi, melainkan memastikan validitas data di tengah guncangan arus digital dan kemunculan AI,” ujar Ronny.

Pesan tersebut menjadi perhatian penting bagi insan pers, khususnya di Kutim, agar tetap menjunjung tinggi prinsip verifikasi dan akurasi informasi. Kehadiran teknologi AI dinilai membawa perubahan terhadap cara masyarakat memperoleh berita sehingga wartawan dituntut semakin cermat dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Perkembangan teknologi juga menghadirkan peluang bagi industri media untuk meningkatkan efisiensi kerja. Namun, pemanfaatannya tetap harus memperhatikan etika jurnalistik agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak kehilangan unsur kebenaran, keberimbangan, dan tanggung jawab.

Melalui sambutan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutim turut menegaskan komitmennya dalam menjaga hubungan kemitraan yang baik dengan insan pers. Kerja sama antara pemerintah daerah dan media dipandang sebagai bagian penting dalam mewujudkan transparansi informasi serta meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap berbagai program pembangunan.

Kemitraan itu bukan dimaksudkan untuk membatasi ruang kritik media, melainkan membangun hubungan profesional yang saling menghormati tugas dan fungsi masing-masing. Pers tetap memiliki independensi dalam menyampaikan informasi, memberikan kritik konstruktif, serta menjalankan perannya sebagai kontrol sosial.

Karena itu, keberadaan PWI sebagai organisasi profesi diharapkan mampu menjadi wadah penguatan kapasitas wartawan, terutama dalam menghadapi perubahan ekosistem media yang semakin dinamis.

Selain menyoroti tantangan jurnalistik, Konferkab III PWI Kutim juga menjadi forum penting dalam menentukan arah organisasi untuk tiga tahun mendatang. Dua kandidat yang telah memenuhi persyaratan pencalonan Ketua PWI Kutim periode 2026–2029 adalah Junaidi Arifin dan Wardi.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Kalimantan Timur, Wiwid Marhaendra Wijaya, memberikan apresiasi terhadap kiprah PWI Kutim dalam menjalankan berbagai program pembinaan dan pengembangan kapasitas anggota.

Sejumlah kegiatan yang menjadi perhatian antara lain pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) serta keterlibatan anggota dalam Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas). Program tersebut dinilai menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia dalam organisasi.

“Pembentukan kepengurusan PWI di tingkat kabupaten/kota juga memiliki persyaratan organisasi yang harus dipenuhi, termasuk ketentuan terkait keanggotaan dan jenjang kompetensi wartawan,” jelas Wiwid.

Di sisi lain, Ketua PWI Kutim, Wardi, memaparkan bahwa organisasi yang dipimpinnya memiliki 51 anggota dengan tingkatan kompetensi berbeda. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 anggota telah memiliki kompetensi jenjang Utama dan 13 anggota berada pada jenjang Madya.

Sementara itu, 27 anggota lainnya tercatat berada pada jenjang Muda atau belum mengikuti UKW. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan organisasi dalam mendorong pemerataan kompetensi wartawan di Kutim.

“Fokus kepengurusan periode 2026–2029 mendatang harus diarahkan pada akselerasi UKW agar integritas dan kualitas karya jurnalistik di Kutim terus terdongkrak,” tegas Wardi.

Peningkatan kompetensi tersebut sejalan dengan pesan yang disampaikan Ronny mengenai pentingnya menjaga kualitas informasi di tengah perkembangan teknologi digital. Wartawan yang memiliki kemampuan profesional diharapkan dapat menjalankan tugasnya secara lebih bertanggung jawab, terutama dalam memastikan keakuratan berita sebelum dipublikasikan.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana Konferkab III PWI Kutim, Rahman, menjelaskan bahwa konferensi diselenggarakan sebagai bagian dari mekanisme organisasi untuk memilih kepengurusan baru periode 2026–2029.

“Berdasarkan hasil verifikasi PWI Provinsi Kaltim, sebanyak 22 anggota tercatat memiliki hak suara yang sah dalam pemilihan ketua PWI Kutim,” ucap Rahman.

Dengan jumlah pemilih tersebut, proses pemilihan diharapkan berlangsung secara demokratis, transparan, serta mengedepankan kepentingan organisasi.

Konferkab III juga menjadi kesempatan bagi seluruh anggota untuk mengevaluasi capaian kepengurusan sebelumnya dan merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan jurnalistik pada masa mendatang.

Pesan yang disampaikan Ronny dalam pembukaan konferensi menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggeser nilai dasar profesi wartawan. Kecepatan penyampaian informasi harus tetap berjalan beriringan dengan akurasi, integritas, dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Melalui Konferkab III ini, PWI Kutim diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memperkuat kompetensi anggota, serta menjaga independensi pers sebagai salah satu pilar demokrasi.

Dengan sinergi yang sehat antara pemerintah daerah dan insan pers, kualitas penyebaran informasi publik diharapkan semakin meningkat sehingga masyarakat Kutim dapat memperoleh berita yang terpercaya, berimbang, dan bermanfaat bagi kemajuan daerah di Tuah Bumi Untung Benua.

(ADV/Kutim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *