Bontang – Di tengah dinamika kota industri, angka pengangguran bukan sekadar statistik, melainkan cerminan denyut ekonomi masyarakat. Pemerintah Kota Bontang menunjukkan optimisme itu saat memaparkan strategi dan capaian penurunan pengangguran dalam presentasi kepala daerah (KDH) secara virtual bersama Kementerian Dalam Negeri, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota ini dihadiri Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, Pj Sekretaris Daerah Akhmad Suharto, jajaran kepala OPD, perwakilan perusahaan, serta mitra kerja pemerintah. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penyampaian strategi daerah dalam mengatasi tantangan ketenagakerjaan.
Dalam pemaparannya, Agus Haris menjelaskan bahwa Bontang memiliki visi sebagai kota industri maju dan berkelanjutan dengan fondasi ekonomi yang kuat serta masyarakat yang sejahtera. Namun, ia tidak menampik bahwa ketergantungan terhadap sektor industri juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat.
Ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara tenaga kerja lokal dan luar daerah. Sebagai bentuk komitmen, Pemerintah Kota Bontang menerapkan kebijakan melalui Peraturan Daerah tahun 2018 yang mengatur komposisi tenaga kerja, yakni 75 persen tenaga kerja lokal dan 25 persen dari luar daerah. Kebijakan ini juga disertai penguatan perlindungan tenaga kerja agar terhindar dari pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak.
“Strategi utama kami adalah memastikan keterhubungan antara kebutuhan industri dengan kesiapan tenaga kerja lokal melalui pelatihan berbasis kompetensi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus Haris menjelaskan bahwa pemerintah mewajibkan perusahaan untuk menyampaikan proyeksi kebutuhan tenaga kerja secara berkala setiap tiga bulan. Langkah ini bertujuan agar perencanaan tenaga kerja dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil industri di lapangan.
Kolaborasi juga menjadi kunci dalam strategi ini. Pemerintah daerah bekerja sama dengan perusahaan, lembaga pelatihan kerja, bursa kerja khusus, serta forum HRD untuk meningkatkan kualitas dan penyerapan tenaga kerja. Melalui sinergi tersebut, berbagai program pelatihan dan penempatan kerja terus dikembangkan.
Hasilnya mulai terlihat. Dari total 31 program yang dirancang, sebanyak 19 program telah berjalan dan mampu menyerap ratusan tenaga kerja, sekaligus melibatkan ribuan pencari kerja dalam berbagai kegiatan pelatihan dan rekrutmen. Tren penurunan angka pengangguran pun mulai terlihat sebagai dampak dari strategi yang terintegrasi ini.
Langkah ini menunjukkan bahwa penanganan pengangguran tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan strategi yang tepat dan berkelanjutan, Bontang optimistis mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan industri dan kesejahteraan tenaga kerja lokal.


