Ads
Ads

Kutim Rancang Museum Daerah dan Galeri Arkeologi

SANGATTA – Kekayaan jejak peradaban purba di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Melalui penyusunan Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) 2026, pemerintah daerah mematangkan rencana pembangunan Museum Daerah dan Galeri Arkeologi sebagai pusat pelestarian sejarah, penelitian, dan wisata edukasi.

Rencana tersebut disampaikan dalam Rembuk Budaya, Harmonisasi, dan Pemaparan PPKD Kutim 2026 yang berlangsung secara hibrida di Ruang Damar, Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Sangatta, Selasa (6/10/2026). Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Ilham, yang mewakili Bupati Kutim, menyebut pengembangan fasilitas permuseuman sebagai langkah strategis menjaga warisan sejarah daerah.

“Kita memiliki rencana besar di bidang kebudayaan, yaitu pendirian museum. Ini adalah amanah besar bagi kita semua, mengingat Kutai Timur merupakan bagian penting dari kawasan peradaban Kutai Purba yang sangat mendunia melalui bentang alam Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” ujar Ilham.

Menurutnya, keberadaan museum diharapkan tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga pusat pembelajaran bagi masyarakat. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan kekayaan arkeologi Kutim kepada generasi muda sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian budaya.

Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat diketahui menyimpan berbagai peninggalan prasejarah, termasuk gambar cadas purba pada sejumlah gua. Kekayaan tersebut memiliki nilai penting dalam kajian perkembangan kehidupan manusia prasejarah di Asia Tenggara.

Sebagai langkah awal, Pemkab Kutim juga menggagas pembangunan Galeri Arkeologi yang dapat difungsikan sebagai pusat informasi sebelum museum utama terealisasi. Galeri tersebut diharapkan mampu melayani kebutuhan pelajar, peneliti, maupun wisatawan yang ingin mengenal sejarah kawasan.

“Walaupun berawal dari fasilitas yang sederhana, Galeri Arkeologi ini nantinya bisa langsung menjadi pusat informasi utama Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Ini akan menjadi entry point atau titik awal bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian maupun kunjungan wisata edukasi ke Kutai Timur,” terangnya.

Ilham juga menekankan pentingnya penguatan pendataan kebudayaan sebagai dasar pengembangan fasilitas tersebut. Melalui PPKD 2026, pemerintah daerah berupaya menginventarisasi potensi sejarah dan budaya dari sejumlah kecamatan, antara lain Sangkulirang, Bengalon, Muara Wahau, dan Muara Ancalong.

Hasil pendataan tersebut direncanakan terintegrasi dengan aplikasi SiBudaya, yakni sistem pangkalan data kebudayaan daerah yang tengah didorong untuk kembali dioptimalkan. Informasi yang terkumpul diharapkan dapat mendukung perencanaan museum sekaligus memperkuat kebijakan pelestarian.

Dalam penyusunan PPKD, Disdikbud Kutim turut menggandeng tim akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman (FIB Unmul) yang dipimpin Ahmad Mubarok, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kaltimtara, Lestari.

Keterlibatan akademisi dan lembaga pelestarian diharapkan dapat memastikan pengembangan museum berjalan berdasarkan kajian ilmiah, terutama terkait dokumentasi koleksi, perlindungan situs, dan penyajian informasi arkeologi kepada masyarakat.

Selain memperkuat pelestarian sejarah, rencana museum dan galeri juga berpotensi mendukung pengembangan wisata edukasi. Namun, pemanfaatan kawasan arkeologi tetap harus memperhatikan perlindungan situs dan kelestarian lingkungan agar peninggalan purba tidak mengalami kerusakan.

Meski telah masuk dalam agenda perencanaan kebudayaan, pemerintah daerah belum merinci lokasi pembangunan, kebutuhan anggaran, maupun jadwal realisasi kedua fasilitas tersebut.

Melalui PPKD 2026, Pemkab Kutim berharap rencana Museum Daerah dan Galeri Arkeologi dapat diwujudkan secara bertahap. Kehadirannya diharapkan menjadi sarana memperkenalkan kekayaan peradaban Sangkulirang-Mangkalihat sekaligus menjaga warisan budaya Kutai Timur bagi generasi mendatang. (Adv/Kutim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *